Entah bagaimana ceritanya, saat lagi menikmati Burger King bersama pacar saya, terlontar pertanyaan dari dia mengapa saya mau menjadi jurnalis. Tapi bukannya menjawab pertanyaan, saya malah bertanya, kira-kira hidup akan seperti apa jika kita tak memilih jalan hidup yang sekarang?
Yang terbayang, saya akan jadi perawat karena ibu saya ingin sekali jadi perawat. Sewaktu SMP, saya sudah diarahkan menjadi perawat karena lebih mudah mencari pekerjaan. Tapi karena saya merasa butuh cerita masa-masa SMP, seperti film-film Indonesia era 80-an, saya berhasil merayu mama saya untuk masuk perawat setelah lulus SMA.
Ternyata, masa SMA membuat saya tertarik dengan komunikasi. Untungnya mama saya tak pernah memaksa, bahkan mama yang mendorong saya untuk mencoba komunikasi.
Dan seandainya saya jadi perawat, yang pasti saya tak akan ketemu dengan pacar saya. Saya menikah muda. Menikah dengan orang Batak yang totok dan tak akan pernah berpikir untuk memiliki persepsi di luar orang kebanyakan.
Sedangkan pacar saya, saya membayangkan dia akan menjadi ulama atau guru ngaji yang menikahi isteri berjilbab. Menjadi orang yang pasrah karena tak pernah mengkritisi apa yang terjadi.
Lalu saya membayangkan lagi, mungkin saya kita bertemu tapi dalam konteks yang berbeda. Bisa jadi sebagai sesama pengunjung mall atau konsumen restoran junk food. Bahkan sangat mungkin kami duduk bersebelahan tapi saling mencibir.
Hihihihihihhi..Lucu ya kalau kita membahas apa yang terjadi jika kita memilih untuk tidak menjadi kita yang sekarang. Mungkin saya tak akan memilih menjadi feminis, menggilai dunia tulis menulis, dan mengikuti ajaran Kristen tanpa mengkritisi apapun.
Bahkan saya bisa jadi tak pernah keluar negeri. Dan diumur sekarang sudah dipusingkan dengan anak yang lebih dari satu. Yang pasti hidup saya akan berubah 360 derajat. Tapi apa iya?
Sebab dalam ilmu perjodohan, apapun yang terjadi sudah digariskan. Karena kalau memang saya dan pacar ditakdirkan untuk bertemu, apapun bentuk pertemuaannya tetaplah bagian dari perjalanan waktu yang harus dilalui. Sebab sebenarnya inti dari jodoh atau tidak adalah pertemuan. Dan ketika jodoh itu masuk pada level yang lebih dalam, maka sesi pertemuan tak hanya terjadi sekali atau dua kali tapi selamanya. Seperti kita tak menonton film mengenai kembali ke masa lalu dari masa depan, pasti ada hal-hal yang tak bisa diubah.
Tapi kalau mau jujur, saya merasa jika saya tak menjadi diri saya yang sekarang, pasti dunia saya sangat monoton. Serba teratur dan serba sesuai dengan tanggapan banyakan orang. Buat saya sih kurang seru, karena saya mungkin hanya melakukan apa yang menurut orang lain harus saya lakukan.
Dan sekarang, saya merasa sangat bersyukur sekali untuk setiap proses yang telah saya lalui. Bahkan untuk proses yang akan dilalui yang wujudnya belum jelas, sebab konsekuensi memilih untuk menjadi beda dari orang kebanyakan, saya percaya perjalanan waktu saya akan lebih dinamis. Bukannya saya mau bilang menjadi perawat akan monoton, tapi lebih kepada hal berbeda apa yang akan terjadi pada saya jika memilih tidak menjadi saya yang sekarang.
Hal lain yang juga saya prediksi tidak seru akan terjadi ketika saya menjadi yang lain dari sekarang adalah tidak punya pacar yang baiknya luar biasa. Dengan kesabaran yang dia punya, saya yakin dia jodoh saya :D Ini semakin menyakinkan saya, bahwa pilihan saya tak pernah salah. Terima kasih Pemberi Pilihan yang senantiasa membuat saya mendengar kata hati saya. Sebab kata hati adalah lentera penunjuk jalan kehidupan yang penuh teka-teki.
Monday, May 3, 2010
Saturday, April 3, 2010
Belum Sekarang, Tapi Segera!

Selasa (31/3) kemarin, saya dapat pesan yang mengejutkan pada account Facebook saya. Seorang teman yang tidak sengaja membaca blog ini mengirimkan berita menggembirakan.
Sebagai awalan, saya akan menceritakan sedikit mengenai pemberi berita. Namanya Nung Nurchasanah, kalau tidak salah 1,5 tahun lalu, dia meninggalkan comment di Sindrom Ovarium Polikistik. Karena ternyata kami sama-sama mengalami gangguan ini.
Alhasil, kami berbicara di yahoo messenger. Bertukar informasi dan saling menyemangati. Dari situlah kami berkenalan. Saya tahu, Nung bekerja di penerbitan buku. Dan saya sempat bertanya, mengenai pekerjaanya. Maklum, saya tergila-gila dengan dunia tulis menulis dan saya ingin mengabdikan hidup saya pada dunia ini. Jadi ada beberapa aspek yang membuat kami seperti berada dalam "garis" yang sama.
Lama tak saling bicara, tiba-tiba Nung mengirimkan message di FB dengan subjek, Minta Nomer Hape". Saya membukanya usai liputan launching ensiklopedia parenting di Kemang. Saya senang luar biasa membaca message Nung, DIA MEREKOMENDASIKAN SAYA KE PENERBITNYA!! Penerbitnya tengah mencari penulis untuk tema kesehatan.
Dan lucunya, Nung minta maaf karena sudah terlalu lancang merekomendasikan saya. Hihihiih to be honest, saya ngga melihat itu sebagai kelancangan sama sekali. Itu kabar gembira yang harus saya ucapkan terima kasih berkali-kali. Karena saya ngga pernah menyangka, kesempatan itu datang dari seseorang yang kebetulan membaca blog saya. Well you never know when the opportunity shows up :D And Nung, you made my day runs perfect :D
Esoknya, saya membuka email yahoo saya dan menemukan salah seorang teman Nung memberikan penawaran. Saya segera membalas dengan memberikan nomer saya. Tapi di sore harinya, rekan Nung mengatakan, penulis lain lebih cepat memberi respon. Ntah mengapa saya tidak sedih, karena saya pikir nomer telepon yang sudah saya berikan akan jadi "pintu" sendiri buat saya untuk kesempatan yang lain.
Sebenarnya pesan singkat Nung ini, menyadarkan saya akan segera mewujudkan mimpi saya. Jangan menunggu waktu lama, sudah waktunya untuk bergerak. Sudah waktunya untuk menciptakan kesempatan sendiri. Karena itu, pesan Nung jadi energi tersendiri buat saya. Bahwa legenda pribadi itu sudah tidak sabar untuk ditemui. Dan waktunya adalah SEKARANG!! Terima kasih Nung untuk pesan singkatnya yang memercik api semangat di kepala, dada, dan tanganku. Doa terbaik untuk kamu dan keluargamu :D
Saya pun semakin percaya, bahwa Tuhan selalu berbicara dengan cara yang unik. Terima kasih juga Sang Pemberi Bakat, untuk simulasi semangat melalui Nung. Ayo kita realisasikan bersama legenda pribadinya. Karena saya percaya, setiap manusia dilahirkan untuk mewujudkan mimpinya. Itulah misi hidup yang menyenangkan untuk menjadi manusia yang tak sekadar lahir, menikah, beranak, dan mati. Hidup adalah rangkaian waktu untuk mewujudkan berjuta mimpi!!
Monday, March 29, 2010
Komunikasi Itu Sulit
Malam ini saya menyadari bahwa setiap kata-kata sulit untuk dihapus. Irreversible, istilah ilmu komunikasinya.
Padahal tadi pagi saya tulis terminologi itu dalam salah satu artikel saya yang membahas mengenai bagaimana membuat anak-anak mendengarkan orangtuanya. Yaitu, ketika marah, jangan pernah bilang "Dasar anak bandel". Sebab selain anak-anak lebih cepat merekam kata-kata negatif, kata-kata juga sulit dihapus. Ya sesuai terminologi komunikasi tadi. Lantas saya mengajak pembaca saya untuk lebih memilih membuat anaknya mengerti bahwa marah berlebihan hanya menghabiskan energi.
Saya amat paham, betapa sulit mengerem kata-kata negatif keluar dari mulut. Maklum, saya termasuk orang yang frontal alias ceplas-ceplos. Saya terlalu ekspresif dan amat ngemar ngecengin teman-teman saya. Salah seorang teman liputan, menyebut saya kompor meleduk karena suka menggiring massa untuk menyerang satu orang.
Kadang-kadang kalau saya sadar, cengan saya berlebihan, saya akan minta maaf. Walaupun saya tahu ngga gampang memaafkan saya, karena udah dipermalukan duluan baru saya minta maaf. Itu kenapa, saya lebih memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pelampiasan blongnya rem kata-kata saya. Alias, hanya ngecengin yang orang-orang terdekat saja.
Tapi bukan berarti penyaringan itu membuat orang-orang terdekat saya aman dari sakit hati yang timbul dari kata-kata yang berseliweran dari mulut saya. Bahkan mungkin ada yang menjadi tidak nyaman dengan kehadiran saya. Maka kadang-kadang saya bisa sangat sensitif ketika ada perubahaan sikap dari orang-orang terdekat saya. Yang terlintas dipikiran saya, jangan-jangan gua salah ngomong nih.
Bila sudah sampai tahap merasa seperti itu, saya bisa drastis mengerem kata-kata pada orang tersebut. Saya bisa menjadi santun dan formal kepada dia. Bagus mungkin, karena meminimalisir bertambahnya korban sakit hati. Tapi pertanyaan bijaknya, kenapa mesti nunggu sakit hati kan? Yah inilah kedunguan manusia, baru sadar kalau udah ada efeknya.
Mungkin ngga sih, Tuhan mikir kalau ngga dikasih proses sadar dari kesalahan, manusia sulit menjadi matang sesuai masanya. Tapi kalau dipikir lagi, bukannya Tuhan cinta perasaan damai ya, tanpa iri dengki? Trus kenapa mesti ada perasaan sakit hati? Jangan jawab bahwa semuanya ada hitam dan putih ya. Kalau ada damai ya mesti dilengkapi dengan sakit hati. Buat saya, jawaban ini ngga buat para ahli teologia atau pencari kebenaran menemukan esensi hidup. Datar kalau cuman begitu aja.
Tiba-tiba, dari situasi ngga enak hati karena sakit hati dari kata-kata yang kurang tepat dari seseorang, saya jadi bertanya banyak hal. Dan kebanyakan pertanyaan itu soal komunikasi.
Saya baru saya mengantar seorang perempuan Jepang yang menggilai King of Convinience (KOC). KOC manggung di Paris, dia ke sana. Dan di Indonesia, dia rela nonton di Bandung dan Jakarta demi dua laki-laki ganteng itu.
Bahasa Ingrrisnya terbata-bata, saya dan teman-teman juga sesekali lupa bahasa Inggris. Ada yang mencoba berbahasa Jepang, dan sedikit terbata-bata juga. Dan hebatnya dari komunikasi terbata-bata ini adalah kadang kala, kalimatnya belum selesai lawan bicara kita yang beda bangsa itu langsung paham. Akhirnya dua-dua akan mengangguk atau tertawa, simbol kesepahaman.
Padahal kalau dirunut, kita adalah dua orang berbeda dari dua kebudayaan berbeda dan bahasa ibu yang berbeda. Tapi justru lebih ngerti dengan bahasa terbata-bata. Bahkan ketika coba saling ngecengin dengan kemampuan bahasa terbata-bata itu, tanpa menyelesaikan kalimat, dua-duanya sudah saling mengerti. Seolah gesture tubuh dan ekspresi melengkapi jurang pemahaman yang ada dalam bahasa terbata-bata.
Duh kenapa seperti keluar dari konteks ya, semakin keliatan kayanya saya coba melarikan diri dari kesalahan kata yang sulit dihapuskan dari seseorang. Yah sudahlah intinya, komunikasi itu sulit. Dan lebih sulit lagi membuat dua orang berada dalam rasa kata, kalimat, dan aksentuasi kalimat yang berbeda untuk masuk dalam level pemahaman bahwa semua kata-kata baik adanya. Karena yang membedakan hanya siapa yang mengatakan.
Dan ketika yang mengatakan adalah orang terdekat, kata-kata yang sulit terhapus semakin tegas. Kembali mengambil teori komunikasi karena kadang kalau lebih penting melihat siapa yang berbicara ketimbang apa yang dibicarakan. Who says what, to whom, with what channel, and with what effect. Jadi semakin dekat kualitas hubungannya, saluran komunikasinya memang makin dekat tapi efek yang ditimbulkan juga makin kuat. Artinya makin salah ngomong makin susah diluapin, bila yang ngomong itu orang terdekat. Yah mesti ngerem kata-kata nih kayanya.
Padahal tadi pagi saya tulis terminologi itu dalam salah satu artikel saya yang membahas mengenai bagaimana membuat anak-anak mendengarkan orangtuanya. Yaitu, ketika marah, jangan pernah bilang "Dasar anak bandel". Sebab selain anak-anak lebih cepat merekam kata-kata negatif, kata-kata juga sulit dihapus. Ya sesuai terminologi komunikasi tadi. Lantas saya mengajak pembaca saya untuk lebih memilih membuat anaknya mengerti bahwa marah berlebihan hanya menghabiskan energi.
Saya amat paham, betapa sulit mengerem kata-kata negatif keluar dari mulut. Maklum, saya termasuk orang yang frontal alias ceplas-ceplos. Saya terlalu ekspresif dan amat ngemar ngecengin teman-teman saya. Salah seorang teman liputan, menyebut saya kompor meleduk karena suka menggiring massa untuk menyerang satu orang.
Kadang-kadang kalau saya sadar, cengan saya berlebihan, saya akan minta maaf. Walaupun saya tahu ngga gampang memaafkan saya, karena udah dipermalukan duluan baru saya minta maaf. Itu kenapa, saya lebih memilih orang-orang tertentu untuk menjadi pelampiasan blongnya rem kata-kata saya. Alias, hanya ngecengin yang orang-orang terdekat saja.
Tapi bukan berarti penyaringan itu membuat orang-orang terdekat saya aman dari sakit hati yang timbul dari kata-kata yang berseliweran dari mulut saya. Bahkan mungkin ada yang menjadi tidak nyaman dengan kehadiran saya. Maka kadang-kadang saya bisa sangat sensitif ketika ada perubahaan sikap dari orang-orang terdekat saya. Yang terlintas dipikiran saya, jangan-jangan gua salah ngomong nih.
Bila sudah sampai tahap merasa seperti itu, saya bisa drastis mengerem kata-kata pada orang tersebut. Saya bisa menjadi santun dan formal kepada dia. Bagus mungkin, karena meminimalisir bertambahnya korban sakit hati. Tapi pertanyaan bijaknya, kenapa mesti nunggu sakit hati kan? Yah inilah kedunguan manusia, baru sadar kalau udah ada efeknya.
Mungkin ngga sih, Tuhan mikir kalau ngga dikasih proses sadar dari kesalahan, manusia sulit menjadi matang sesuai masanya. Tapi kalau dipikir lagi, bukannya Tuhan cinta perasaan damai ya, tanpa iri dengki? Trus kenapa mesti ada perasaan sakit hati? Jangan jawab bahwa semuanya ada hitam dan putih ya. Kalau ada damai ya mesti dilengkapi dengan sakit hati. Buat saya, jawaban ini ngga buat para ahli teologia atau pencari kebenaran menemukan esensi hidup. Datar kalau cuman begitu aja.
Tiba-tiba, dari situasi ngga enak hati karena sakit hati dari kata-kata yang kurang tepat dari seseorang, saya jadi bertanya banyak hal. Dan kebanyakan pertanyaan itu soal komunikasi.
Saya baru saya mengantar seorang perempuan Jepang yang menggilai King of Convinience (KOC). KOC manggung di Paris, dia ke sana. Dan di Indonesia, dia rela nonton di Bandung dan Jakarta demi dua laki-laki ganteng itu.
Bahasa Ingrrisnya terbata-bata, saya dan teman-teman juga sesekali lupa bahasa Inggris. Ada yang mencoba berbahasa Jepang, dan sedikit terbata-bata juga. Dan hebatnya dari komunikasi terbata-bata ini adalah kadang kala, kalimatnya belum selesai lawan bicara kita yang beda bangsa itu langsung paham. Akhirnya dua-dua akan mengangguk atau tertawa, simbol kesepahaman.
Padahal kalau dirunut, kita adalah dua orang berbeda dari dua kebudayaan berbeda dan bahasa ibu yang berbeda. Tapi justru lebih ngerti dengan bahasa terbata-bata. Bahkan ketika coba saling ngecengin dengan kemampuan bahasa terbata-bata itu, tanpa menyelesaikan kalimat, dua-duanya sudah saling mengerti. Seolah gesture tubuh dan ekspresi melengkapi jurang pemahaman yang ada dalam bahasa terbata-bata.
Duh kenapa seperti keluar dari konteks ya, semakin keliatan kayanya saya coba melarikan diri dari kesalahan kata yang sulit dihapuskan dari seseorang. Yah sudahlah intinya, komunikasi itu sulit. Dan lebih sulit lagi membuat dua orang berada dalam rasa kata, kalimat, dan aksentuasi kalimat yang berbeda untuk masuk dalam level pemahaman bahwa semua kata-kata baik adanya. Karena yang membedakan hanya siapa yang mengatakan.
Dan ketika yang mengatakan adalah orang terdekat, kata-kata yang sulit terhapus semakin tegas. Kembali mengambil teori komunikasi karena kadang kalau lebih penting melihat siapa yang berbicara ketimbang apa yang dibicarakan. Who says what, to whom, with what channel, and with what effect. Jadi semakin dekat kualitas hubungannya, saluran komunikasinya memang makin dekat tapi efek yang ditimbulkan juga makin kuat. Artinya makin salah ngomong makin susah diluapin, bila yang ngomong itu orang terdekat. Yah mesti ngerem kata-kata nih kayanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)