Tuhan Yang Maha Sempurna,
Hari ini, seorang teman yang baru saja ku kenal,
Kau ajak tinggal di rumahMu.
Aku tertunduk.
Memejamkan mata sambil meletakkan kedua tangan di dada.
Raih tanganku Tuhan,
tolong sampaikan hangatnya genggaman ini bagi teman baru itu.
Norvan Hardian yang akrab menyebut dirinya sebagai PecanduPagi,
sore ini menutup matanya.
Perutnya membuncit. Tubuh yang menguning.
Itu adalah kondisi terakhirnya, akibat kanker hati yang entah sudah berapa lama menggrogoti tubuhnya
tapi baru beberapa bulan terlihat.
Mungkin saat ini, dia sudah tidak merasakan itu lagi.
Rasa sakit hilang bersama nafas yang terhenti dalam pejaman mata.
Otopet, itu yang membuat dia mengingat saya dalam pertemuan yang sangat singkat.
Komik Pamali, itu yang membuat saya mengetahui bakatnya yang luar biasa.
Bahkan ketika dokter mendiagnosa dia dengan kanker stadium akhir,
PecanduPagi membakar semangatnya untuk bisa membuat komik yang bercerita mengenai kanker.
Ah Tuhan, kenangan saya hanya sedikit.
Hanya itu yang saya punya, tapi rasa kehilangan ini begitu dalam.
Rasa sedih seolah tidak henti menggelayut dalam hati.
Tiba-tiba terpikir kedua anaknya yang masih sangat kecil.
Bahkan anaknya yang bungsu umurnya masih dalam hitungan bulan.
Teringat ketika PecanduPagi menuliskan status romantik yang menggelitik pada Facebook-nya,
"Istriku,anak anakku...ingin rasanya segera berkumpul lagi...bersama kebo."
Saya menangkap pesan itu, tepat dihari ulang tahun saya yang membuat saya tertawa geli.
Dan kini, jejaring sosial itu penuh dengan tulisan belasungkawa.
Beberapa teman terdekatnya bahkan menampilkan foto-foto ketika bersama.
Seorang teman terdekat pun memilih menjadikan tangkapan kamera PecanduPagi sebagai profile pic-nya.
Semua kehilangan dan semua berduka.
Ini malam duka cita ternyata.
Usianya sangat muda tapi bakatnya luar biasa.
Apakah Tuhan sedang butuh orang muda yang berbakat?
Seorang pencinta pagi dan matahari.
Humoris sejati yang bisa menghibur banyak orang.
Kini kami hanya punya kenangan Tuhan.
Kami hanya bisa memutar apa yang pernah terjadi dengan tangan dingin dan mata berkaca.
Tapi kami juga mengirimkan kata-kata dalam nafas yang tulus
agar perjalanannya menuju rumah pemilik matahari bisa berjalan sempurna.
Kami kirimkan juga jalinan jemari yang erat pada isteri dan kedua anaknya
yang masih akan menikmati pagi.
Dan kata-kata yang terangkai ini
adalah cara kami untuk menyimpan PecanduPagi dalam semangat yang pernah dibagikan.
Ini adalah doa untuk rasa terima kasih atas kebersamaan
ketika menikmati bakat yang luar biasa.
Kartu matahari,
Sebuah kartu imajinatif yang dikirimkan melalui keikhlasan melepaskan
seorang teman, sahabat, suami, anak, suami, dan ayah yang sederhana
Sesederhana namanya yang mudah diingat Norvan Hardian
Tapi kartu matahari juga berisi energi.
Energi untuk menggenapi hidup dengan segala aura pagi.
Karena pagi adalah awal dari kenikmatan mengenapi hidup.
Dan kartu matahari itu, kami berikan pada Norvan Hardian, si PecanduPagi.
Tuhan akan bersamamu teman,
dalam perjalananmu pulang menuju matahari.
Malam duka, 9 Desember 2010
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Showing posts with label sahabat. Show all posts
Thursday, December 9, 2010
Friday, October 29, 2010
Matahari untuk Si Pecandu Pagi
Tulisan ini dibuat untuk seorang teman yang baru saja saya kenal, bahkan saya baru bertemunya sekali. Mmm...saya menulis ini untuk menyemangati Norvan Hardian a.k.a Si Pecandu Pagi karena saya tak punya amunisi lain selain tulisan.
Btw nickname yang bagus. Dari awal Hanida Syafriani cerita tentang Pecandu Pagi, saya langsung tertarik dengan nama aliasnya. Sampai pada gelaran Book Fair Jakarta setahun kemarin, saya menerima ajakan Nida untuk menghadiri launching komiknya yang berjudul Pamali, akhirnya saya tahu dari mana asal muasal sebutan Si Pecandu Pagi.
Saya kagum dengan kecintaan dia pada dunia komik. Dari bangku kuliah sudah mulai membuat komik sendiri dengan menggunakan spidol biasa yang kemudian difoto kopi untuk disebarkan ke teman-teman. Idenya sangat fresh, khas bobodoran anak Bandung dengan imajinasi yang tinggi. Bayangin aja, tokohnya punya 6 lubang hidung. Sampai sekarang saya masih suka tertawa geli membayangkannya.
Saya sampai iri karena tidak berhasil mendapatkan komik perdananya. Sedangkan Nida, dapat komiknya gratis plus ditanda-tangani langsung. Hihihihihihi rada-rada aneh mungkin, tapi saat melihat dia bercerita santai mengenai komik pertamanya, saya yakin karakter unik itulah yang bisa membuat dia sukses suatu hari nanti.
Bayangin aja, sewaktu dia diminta duduk di depan sebagai penulis buku, dia dengan tiba-tiba meminjam otopet yang kebetulan saya dapat dari doorprize liputan. Dan waktu itu sang MC, Boim Lebon bertanya, "Ngapain bawa-bawa otopet?" Pecandu pagi hanya menjawab,"Ya itu biar ditanya." Pastilah semua orang tertawa, termasuk saya.
Lalu saya perhatikan, otopet itu tidak sekadar ditenteng untuk memeriahkan suasana, beberapa kali saya lihat dia memandangi otopet dengan serius. "Duh pengen mainin banget deh gua. Buat gua aja boleh ngga?" Dan saya hanya bisa bilang, "Ini kan otopet buat anak-anak, kekecilan juga kali." "Hmmm...iya juga sih," ucapnya dengan wajah memelas. Padahal kalau saya jadi dia, launching buku pertama akan diisi dengan perasaan deg-degan karena mimpi jadi kenyataan. Yah tipe orang santai memang selalu rileks dalam memandang hidup tapi bukan berarti meremehkan.
Sebab dari analisa kilat yang saya lakukan ketika itu, saya menangkap Pecandu Pagi akan menjaga passionnya mati-matian. Apapun dilakukan demi sesuatu yang membuat dia hidup. Lagi-lagi saya percaya ada yang unik dari pribadi ini. Yah saya memang tidak mengenalinya secara utuh tapi buat saya apa yang saya tahu cukup membuat saya tersenyum.
Sampai beberapa hari lalu, Nida cerita kalau ada tumor di pankreasnya. Bahkan hari ini, beritanya lebih dasyat lagi, tumor itu ternyata kanker yang sudah memasuki stadium 4 yang membuat Pecandu Pagi katanya hanya bisa bertahan selama 6 bulan. Berita yang tidak enak untuk didengar, bahkan untuk orang yang tidak begitu akrab dengan Pecandu Pagi seperti saya.
Saya langsung teringat tulisan saya sebelumnya, What if... Bahwa waktu memang hanya bisa kita hitung. Tapi Saya juga disadarkan telah diberi kesempatan untuk mengenal Si Pecandu Pagi. Dan kini waktunya saya memperkenalkannya pada pembaca blog saya (ada kan ya hihihiihi). Anyway, saya merasa Si Pecandu Pagi penting untuk dimasukkan ke dalam salah satu halaman cerita blog (baca:hidup) saya, sebagai wujud apresiasi saya pad orang yang punya passion dalam hidupnya.
Walaupun sebenarnya saya tahu, betapa yang dia alami sekarang sangat berat dan mungkin tulisan ini tak bisa berbuat banyak. Saat Nida cerita tentang 6 bulan, yang pertama kali saya pikirkan adalah,"Kita ajak dia jalan-jalan yuk Nid. Kita ajakin ke Bali aja, ikut rencana gila kita." Tapi saat ini sepertinya pengobatan harus menjadi prioritas, entahlah kita toh belum benar-benar menanyakan langsung pada Si Pecandu Pagi. Lalu saya juga bilang ke Nida, "Kita masih bisa rayu Tuhan kok Nid, 6 bulan itu kan prediksi dokter dan yang punya waktu bukan dokter."
Apa sih yang bisa kita lakukan untuk menyemangatinya? Entahlah saya pun sulit menjawabnya, karena untuk membuat tulisan ini saja saya membaca berulang-ulang. Menghapus beberapa kata dan menggantikan dengan kata yang baru. Judulnya saja, saya ganti beberapa kali. Saya takut ada yang salah dimengerti dari tulisan ini. Padahal dari awal saya ingin sekali menuliskan sesuatu untuk menunjukkan empati saya, lagi-lagi karena saya merasa tulisan adalah satu-satunya amunisi yang saya punya.
"Dia tersinggung ngga ya, kalau gua nulis di blog? Hanya pengen menyemangati aja, takutnya kalau gua SMS, dia ngga inget dan ngerasa aneh," semua rasa segan itu saya ceritakan ke Nida. "Mmmm...karena dia termasuk orang yang gila, gua rasa dia bakal santai-santai aja kalau lu nulis. Ntar gua suruh dia baca deh," Nida coba menenangkan. "Eh ternyata dia masih inget lo, si pemilik otopet," kembali SMS dari Nida menyakinkan saya untuk menulis.
Well Si Pecandu Pagi, if you reading my blog, saya hanya ingin katakan bahwa akan selalu ada matahari yang mengawali pagi. Saya rasa sebagai Pecandu Pagi, lu pasti ngerti banget gimana nikmatnya memiliki rasa penasaran akan seperti apakah sinar matahari hari ini. Ternyata nickname yang lu pilih bukan sekadar unik tapi juga penuh harapan. Nickname ini memberikan terminologi baru dalam memaknai hari baru. Kita harus menjadi pecandu pagi untuk bisa menggilai hidup. Dan rasanya tidak ada yang perlu dikuatirkan dari diagnosa dokter itu, karena Si Pecandu Pagi sudah lebih dulu berani 'menikahi' matahari untuk dapat mengendalikan apa yang akan terjadi hari ini.
Jangan menyerah ya, semua yang terjadi ada untuk kita hadapi.
Jangan berhenti menggilai hidup ya, karena hidup ada untuk diperjuangan sampai titik kenikmatan terakhir.
Apapun nama rintangan itu, dia ada hanya untuk kita lalui dengan amunisi kemenangan yang sudah ada di tangan.
Tak ada kata kalah bagi penggila hidup. Sama seperti tak ada awan gelap bagi pemilik matahari pagi.
Nida dan saya, hanyalah sebagian kecil dari yang diam-diam ikut menatap matahari pagi bersama-sama Si Pecandu Pagi. Karena pagi begitu berharga untuk sekadar dilalui seorang diri.
Jadi, mari kita hadapi sama-sama.
Tak ada hari yang harus dibatasi. Sebab matahari akan selalu ada, tak peduli seberapa lambat atau cepat dunia berputar.
Dan sebagai pendamping hidup matahari, rasanya kita tak perlu takut akan pergantian waktu.
Sebab matahari tak kenal kadarluarsa. Dan hanya orang-orang yang punya nyali yang berani menikahi matahari, dialah para Si Pecandu Pagi.
Saya tidak menjanjikan tulisan ini akan meringankan beban. Tapi saya dan Nida menjanjikan, akan selalu ada energi baru yang siap kami tularkan. Jadi setiap kali menanti pagi, tolong jangan merasa sendiri. Setidaknya ada dua orang yang akan selalu ikut menatap matahari yang sama.
Tetap semangat ya.
Salam hangat dari kupu-kupu yang selalu berani untuk terbang ringan ke angkasa dan si pedestrian yang tidak pernah merasa takut untuk menapaki jalan-jalan panjang tak bertuan.
Mari kita menggilai hidup !!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
