Thursday, January 14, 2010

Utang tulisan



Duh saya penasaran dengan cerpen yang saya sedang cicil. Iya cicil, karena rutinitas kerja membuat saya kelelahan di malam hari hingga sulit untuk membuka mata dan menciptakan karakter.

Rasa penasaran saya sudah sampai ubun-ubun. Pengen tahu banget, akhirnya seperti apa. Ah siapa bilang menjadi penulis itu pekerjaan mudah...Susah loh, apalagi jika kegiatan menulis itu didasari kepuasan diri. Bukan sekedar jaminan bulan ini digaji atau tidak... :D

Duh pengen banget nulis...pengen banget cerita tentang ilalang ini menemukan klimaksnya...Padahal pacar saya sudah memodali dengan 4 seri buku Proses Kreatif Mengapa dan Bagaimana Saya Menulis. Ini buku kumpulan dari penulis-penulis terkenal yang bercerita bagaimana proses kreatif mereka. Mulai dari Pramoedya Ananta Toer, AA Navis, Budi Dharma, sampai Ayu Utami.

Ini hadiah luar biasa. Ibaratnya, pacar saya meminta mereka bercerita kepada saya bagaimana menjadi penulis hebat seperti mereka. Ah menulis, selalu menjadi kepuasan tersendiri buat saya. Dulu saya rajin menulis buku harian. Kemudian beranjak menulis puisi dan kemudian serius mempelajari teknik menulis di jurusan Jurnalistik. Hingga sekarang bekerja sebagai kuli tinta.

Sepertinya saya butuh meningkatkan skill menulis saya dengan medan yang lebih menantang :D Yah yang penting memenuhi klimaks cerpen ilalang dulu lah :D

Sunday, November 29, 2009

Simbol Ketulusan

Hari ini saya, bermain ke museum bersama taman belajar RUMAH SENYUMPAGI yang diasuh oleh Ika Krismantari dan suaminya, Kelik Wicaksono. Pasangan unik yang selalu tertawa, saya hampir ngga pernah liat pasangan ini cemberut-cemberutan.

Awalnya saya kenal Ika, dan saya percaya tidak ada sebuah kebetulan dalam hidup termasuk ketika Summer Academy 2008 InWEnt mempertemukan saya dengan perempuan berambut ikal ini. Awalnya kami hanya catting di YM untuk mengakrabkan diri. Sebelumnya saya beberapa kali mendengar cerita tentang dia dari pacar saya. Ini kemudian membuat saya membaca blognya diam-diam :D



Perbincangan awal kami adalah pada saat perjalanan ke Jerman, di dalam pesawat KLM, selama kurang lebih 14 jam! Entah kenapa saya merasa ingin bercerita banyak hal dengan istrinya Kelik ini, mungkin saya merasa "berhutang" karena sudah membaca cerita hidupnya sebelum kenal langsung dengannya di blognya.

Setelah itu, kita seperti bunyi tutup botol ketika dibuka, KLIK. Iya...kita nge-klik aja. Setiap malam kami tertawa-tawa di kamar dalam bahasa Indonesia selama di Hamburg. Cerita mengenai agama, perjalanan percintaan, sampai fantasi seksual wakakakaka...Fantasi...kayanya....kikikikikik.

Saya merasa sangat beruntung sekali, Sang Pengatur Cerita, mempertemukan saya dengan perempuan yang lahir 7 Desember ini. Pengalaman ke luar negeri pertama saya, benar-benar dipenuhi dengan petualangan! Belum lagi kami berdua mengalami kejadian yang menyeramkan akibat mabuk-mabukan di Berlin. Ya senasib dan sepenanggungan lah :D

Sedangkan untuk Mas Kelik, yang saya tahu dia sangat cinta dan romantis kepada Ika. Saya ingat betul, saat menjemput kami di Bandara Soekarno-Hatta, Mas Kelik membawa seikat bunga yang sangat cantik. Dan ketika mama saya senyum-senyum melihat dirinya memberikan bunga kepada istrinya, Mas Kelik hanya berucap, "Aku malu tadi ngasih liat ke tante, makanya tak umpetin..." Oooooo Mas Kelik, kau mencuri hatiku...loh kok :D

Semenjak perjalanan di Eropa, saya dan ika semakin dekat. Saya sayang sekali dengan dia karena dia begitu tulus ketika berteman. Sampai akhirnya dia bercerita dia punya taman belajar di rumahnya, Rumah Senyumpagi. "Karena anak-anak sering main ke rumahku, akhirnya aku bikin kelas aja. Kelas bahasa Inggris, dari pada cuman main-main doang." Begitu Ika bercerita melalui YM kepada saya. Ekspresi saya, "Wah Ika kamu baik banget."

"Kalau aku jadi anak-anak itu, pasti kamu akan jadi icon guru bahasa inggris yang cantik dan baik hati," komentar saya sambil disertai tanda senyum di YM. Dan kami pun tertawa bersama. Alhasil saya sering mendengar cerita tentang taman belajar Rumah Senyumpagi. Baik dari cerita Ika langsung atau melalui statusnya di FB. Saya iri, saya ingin menjadi muridnya Ika :D

Akhirnya dengan tanpa perencanaan, saya dan pacar saya mengunjungi Rumah Senyumpagi. Dengan bermodalkan panduan via SMS, kami pun sampai di rumah yang sangat nyaman. Saya duduk di antara anak-anak, maklum niat saya kan mau jadi muridnya Miss Ika dan Mas Kelik. Dan ada satu anak kecil yang mencuri hati saya, entah mengapa Nisa menatap saya dengan terpesona. Mungkin karena rambut saya seperti megalowoman :D

Belum lagi salah satu anak yang dengan lugu menyarankan Ika agar banyak makan garam, biar bisa hamil...hihihihiiihi. Anak-anak memang punya privilege untuk menjaga originalitas ekspresinya. Kenapa setelah besar kita jadi jaim ya?

Kunjungan impulsif ini bikin saya ingin bercengkrama lagi dengan anak-anak luar biasa itu. Dan ketika mendengar Ika akan mengajak mereka ke museum, saya berjanji untuk datang. Rasanya luar biasa, melihat tour guide keren bercerita dengan lugas tentang benda-benda bersejarah. Lugas, karena sang tour guide tidak seperti tour guide kebanyakan yang kaku dan pegawai negeri bangetlah. Tour guide yang ini trendi, pake kemeja kotak-kotak dengan syal melilit di lehernya. Saya kalau jadi anak-anak itu pasti naksir sama Mas Kelik, abis keren banget sih (gaya abg mode on).

Dan hari ini, saya lagi-lagi terpesona apa yang pasangan ini lakukan. Mereka bahkan sampai menyewa bis yang sangat nyaman untuk mengantarkan 18 anak dari Pondok Cabe sampai Museum Gajah. Dan anak-anak merasa sangat antusias mengisi titik-titik di kertas kuis yang mereka sediakan. Seingat saya dulu, setiap kali dikasih soal pas mengunjungi museum saya merasa biasa aja. Karena ya itu, tour guidenya bapa-bapa berseragam cokelat :D

Melihat bagaimana pasangan ini membagikan waktunya bersama anak-anak yang awalnya gemar mampir ke rumah mereka, rasanya luar biasa untuk bisa memiliki keinginan berbagi seperti mereka. Menangkap setiap ekspresi yang dilontarkan bebas tanpa dibatasi, beruntungnya anak-anak itu mengenal dua sosok orang dewasa yang mengajarkan keutuhan untuk menjadi diri sendiri.

Ah mereka berdua memang simbol ketulusan yang hidup yang saya temui dan nikmati. Keterbukaan mereka terhadap berbagi itu indah tidak hanya terbukti pada hubungan perteman yang belum lama saya jalani dengan mereka, tapi juga terlihat nyata melalui interaksi miss, mas, dengan anak-anaknya.

Cobalah berkunjung ke rumah Senyumpagi. Temukan seorang perempuan yang sangat mencintai hidup tengah duduk di depan pintu rumahnya yang bermodalkan whiteboard dan spidol, menulis tentang bahasa inggris yang sederhana. Tidak perlu menjadi yang terhebat di kelas ini karena Miss-nya masih suka lupa bahasa inggris dari sebuah kata dan mencarinya di dalam kamus di depan anak-anaknya.

Setelah belajar tanpa tekanan, giliran Mas-nya menciptakan permainan. Bisa jadi permainannya origami, hang man, atau ular tangga, yang pasti permainan sederhana yang membuat kita penasaran dan tertawa. Di akhir pelajaran, anak-anak akan diberi choki-choki yang didapat setelah mengantri dengan rapi. Belum puas bermain di rumah Senyumpagi, tenang saja Miss Ika dan Mas Kelik masih bisa dipanggil setiap kali kita melintasi depan rumahnya. Seperti anak-anak itu yang tidak bosan mengajak mereka bermain, "Miss besok olahraga pagi yuk." Atau, "Miss mau main dong."

Dear Ika dan Mas Kelik, makasih ya untuk pembelajaran tanpa hentinya. Taman belajar Rumah Senyumpagi selalu memberikan candu kepada saya untuk selalu datang, datang, dan bermain. Love you both so much :D

Tuesday, November 17, 2009

Merealisasikan 28

Hari ini Sang Pemilik Kehidupan memberikan kepercayaan kepada saya untuk memasuki ke-28 tahun hidup di dunia. Mari mendalami usia ini.

Sewaktu saya masih remaja, saya menggambarkan di usia ini saya akan menikah. Mengapa? Karena saya memprediksikan karir saya sudah lebih enak. Enak buat saya dan keluarga. Ya ini ada benernya.

Disamping itu, saya juga menyakini secara psikologis saya siap. Entah dari mana ketika itu saya bisa dapat keyakinan sedemikian bulat.

Kenyataannya....
Beberapa hari menjelang pertambahan usia, saya jadi gampang marah dan semakin egois. Ntah apa ini memang buah perjalanan karir yang lebih enak. Karena tanggung jawabnya makin besar, tingkat stres saya juga makin tinggi. Tapi saya bersyukur, amat bersykur bahkan. Karena Sahabat Kehidupan saya memberikan kepercayaan untuk masuk dalam kenaikan tanggung jawab. Saya percaya apa yang dipercayakan Dia adalah yang paling baik yang saya bisa lakukan.

Selain gampang marah, saya semakin egois. Tanya saja pacar saya, dia bertubi-tubi dapat "serangan" keegoisan saya (Maaf ya sayang). Apa ini namanya kematangan psikologis, rasanya tidak juga.

Beberapa jam lalu, saya cerita dengan seorang sahabat saya yang lama sekali tidak bertemu. Saya bilang, saya merasa aneh ketika beradu argumen dengan teman-teman lain. Saya merasa asing. Saya percaya, people do change tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa perubahaan itu membuat kita merasa kikuk ketika berhadapan dengan mereka yang lama kita kenal tapi dengan perbedaan pemikiran. Iya, saya menjadi tidak adil jika memaksa semua orang untuk berubah ke gelombang yang sama dengan perubahaan saya. Itu mengapa, saya memilih saya yang merasa asing.

Lalu saya bertanya kepada sahabat saya itu, apa saya yang masih menjadi alien sementara yang lain sudah jadi manusia :D Teman saya menjawab, interaksi kita sudah beda jadi outputnya juga beda. Ya apa yang teman saya katakan benar, tapi saya masih bertanya, mengapa saya berubah terlalu cepat? Teman saya itu bilang lagi, semuanya masalah pengertian. Kalau kita mengerti telah terjadi sebuah perubahan pada masing-masing orang, lebih baik menganggap perbedaan itu sebagai kondisi sekarang yang diterima dengan porsi yang pas.

Iya porsi yang pas dengan mengerti ketika jalur perubahan kita terlalu cepat, lebih baik memancing pembicaraan yang umum-umum saja. Biar tidak ada yang tersakiti atau disakiti dengan kesadaran people do change.

Mungkin kecenderungan egois saya yang tinggi muncul karena saya merasa sendirian. Tidak banyak pendamping pikiran-pikiran gila saya. Semuanya berjalan sesuai aturan, sedangkan saya masih jatuh cinta dengan ketidaknormalan. Alhasil saya merasa butuh menyuarakan keinginan saya dengan berlebih agar semua orang mendengar ketidaknormalan saya dan memahaminya sebagai kewajaran. Entahlah saya sedang egois memang.

Tapi saya bersyukur, setidaknya saya bisa merasakan fluktuasi emosi yang melelahkan. Ini membuat saya ingin keluar dari kekacauan emosi dan keegoisan ini dengan cepat.

Lagi-lagi saya butuh keluar dari kepompong saya. Saya butuh menegaskan diri sebagai sesuatu di luar garis. Saya harus menjadi asing karena proses metamorfosis mengantarkan saya pada itu.

Tapi saya juga menyadari, bahwa kebutuhan menjadi asing ini seharusnya tidak membuat kekasih saya terzalimi berkali-kali. Saya hanya ingin kita menjadi asing bersama-sama. Saya takut dia saya temukan menjadi sosok yang tidak saya kenal. Dengan cara yang salah, saya coba menyadarkan dia dengan "memaksa" dia mendengarkan saya. Karena saya ingin, kita tetap pada atmosfer cinta yang sama ketika memutuskan untuk menjalani hubungan. Saya tidak mau hubungan saya yang ini berubah menjadi sesuatu yang pragmatis. Karena sudah biasa jadi tidak perlu manis-manisan atau manja-manjaan lagi. Saya ingin tetap deg-degan ketika dibonceng dia dengan supra fit.

Ya saya takut menjadi pragmatis. Saya ingin tetap hidup dengan keliaran berpikir saya. Aku berharap kamu tetep temenin aku yang. Karena ternyata, semakin kita tua kita menjadi seragam. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan buat aku.

Ah umur 28 itu ternyata butuh banyak pengertian dan kesabaran. Di umur ini, lingkungan kita jadi linear. Pilihannya ditarik garis lurus itu atau menarik garis ke luar kertas. Saya sih inginnya yang kedua. Saya percaya menjadi dinamis lebih aduhai ketimbang sekedar jalan tanpa tau kenapa harus jalan. Bila kemudian ini diartikan sebagai egoisme karena tidak mau bertoleransi dengan keseragaman ya saya telan saja bulat-bulat. Toh dulu saya juga dibilang demikian saya memilih keluar dari kewajaran.

Semoga metamorfosis ini akan lebih kuat saya jalanin karena usia 28 itu dasar dari kematangan proses hidup. Jika saya sukses merealisasikannya maka saya tinggal memoles proses saya menjadi istri, ibu, dan nenek dari masa depan saya.

Ayo kupu-kupu, sudah habis waktunya menjadi kepompong. Robek kepompongnya dan lebarkan sayap, karena keliaraan itu ada di luar selubung hitam yang menyesakkan. Selamat memasuki proses baru dan selamat menikmati hidup :D