Setelah hampir 3 tahun berpacaran, akhirnya pacar saya ngambek juga. Well, saya ngga sengaja sih bikin dia ngambek. Cuman keadaan aja yang bikin kita jadi sama-sama sensitif dan milih untuk ngga banyak ngomong apa-apa.
Tapi ternyata dia malah uring-uringan ngga jelas dan sempet bikin panik. Diteleponin ngga diangkat. SMS pu ngga dibales. Soalnya malam sebelumnya, dia ngeluh lehernya sakit luar biasa. Saya pikir syaraf lehernya yang kejepit pasca kecelakaan itu kambuh lagi.
Pikiran jelek saya muncul, jangan-jangan dia kenapa-napa lagi. Walaupun sebenarnya, dalam hati saya ngga terlalu panik. Biasanya, kalau terjadi sesuatu dengan orang terdekat saya, perasaan ngga enak muncul tanpa alasan.
Untuk memenuhi rasa penasaran, saya pun datang ke tempatnya. Belum sampai pintu kamar kosnya, saya langsung tanya penjaganya apa dia udah keluar kamar dari pagi. "Wah belum tuh Mba." Saya makin panik, masa udah siang belum bangun. Dia ngga pernah bangun sesiang itu, saya membatin.
Saya gedor-gedor pintunya. Karena tidak ada jawaban dari dalam, saya gedor semakin kencang. Tiba-tiba pintu kebuka dan dia muncul dengan muka cemberut. "Sayang, aku ngambek." Sebel, marah tapi lucu juga liat mukanya yang kaya anak-anak gitu. Tapi saya milih nunjukkin marahnya, karena sudah dibuat panik semalam suntuk.
Well ini kali pertama dia NGAMBEK besar...nyebelin emang...tapi lucu juga sih...Asal jangan sering-sering aja ya....Karena ngambaek adalah "wilayahnya" perempuan *pembenaran mode on*
Love you sayang
Sunday, June 28, 2009
Tuesday, June 23, 2009
Menantang Diri
Saya sangat menyadari kalau saya ini keras kepala, sangat keras kepala bahkan. Kalau tidak percaya, tanya saja pacar saya yang sudah berpengalaman membujuk rayu kalau saya sedang marah. Ngga cukup sejam atau dua jam merayunya, karena pacar saya sudah pernah menjajali merayu saya tidak henti sampai sehari semalam.
Ini bukan prestasi memang, saya sadar itu. Lagian mana ada perlombaan siapa yang paling bebal otaknya. Kalaupun ada, saya tidak akan mendaftarkan diri karena apa hebatnya jadi orang yang keras kepala.
Tapi setelah saya telisik-telisik, kebebalan seseorang itu lahir karena dia punya rasa penasaran yang besar. Dan dia tidak akan berhenti menantang dirinya untuk berada pada ranah penasaran kalau pihak seberang belum merasa harus mengalah. Yah ini bahasa lain dari orang keras kepala tidak mau disalahin sebenarnya. Itu kenapa dia akan menunggu sampai tahun kuda kalau perlu, agar pihak yang dihadapinya dengan "sukarela" mengalah.
Beberapa waktu lalu, saya memberanikan diri untuk menantang sekitar saya. Tapi saya gagal. Saya mengalah. Ya tidak 100 persen mengalahlah karena sekitar saya juga melunakkan persepsinya. Mereka mundur satu langkah dan saya melakukan hal yang sama. Sejauh ini sih, diri saya masih bisa menyesuaikan win-win solution yang ditawarkan tapi entah kenapa saya masih merasa harus menggenapi tantangan tersebut. Tantangan yang membuat sekitar saya kepanasan. Apa emang sudah waktunya saya bermetamorfosis kembali? Atau kempompong yang sekarang cukup tebal untuk diterobos?
Ah entahlah, saya hanya perlu menelisik kata hati saya. Apa yang sebenarnya saya butuhkan dengan tingkat kedewasaan yang semakin menua. Mudah-mudahan ada titik terangnya.
Ini bukan prestasi memang, saya sadar itu. Lagian mana ada perlombaan siapa yang paling bebal otaknya. Kalaupun ada, saya tidak akan mendaftarkan diri karena apa hebatnya jadi orang yang keras kepala.
Tapi setelah saya telisik-telisik, kebebalan seseorang itu lahir karena dia punya rasa penasaran yang besar. Dan dia tidak akan berhenti menantang dirinya untuk berada pada ranah penasaran kalau pihak seberang belum merasa harus mengalah. Yah ini bahasa lain dari orang keras kepala tidak mau disalahin sebenarnya. Itu kenapa dia akan menunggu sampai tahun kuda kalau perlu, agar pihak yang dihadapinya dengan "sukarela" mengalah.
Beberapa waktu lalu, saya memberanikan diri untuk menantang sekitar saya. Tapi saya gagal. Saya mengalah. Ya tidak 100 persen mengalahlah karena sekitar saya juga melunakkan persepsinya. Mereka mundur satu langkah dan saya melakukan hal yang sama. Sejauh ini sih, diri saya masih bisa menyesuaikan win-win solution yang ditawarkan tapi entah kenapa saya masih merasa harus menggenapi tantangan tersebut. Tantangan yang membuat sekitar saya kepanasan. Apa emang sudah waktunya saya bermetamorfosis kembali? Atau kempompong yang sekarang cukup tebal untuk diterobos?
Ah entahlah, saya hanya perlu menelisik kata hati saya. Apa yang sebenarnya saya butuhkan dengan tingkat kedewasaan yang semakin menua. Mudah-mudahan ada titik terangnya.
Saturday, May 30, 2009
Tanggung Jawab Itu Saya Terima
Mungkin memang ada benarnya ucapan yang mengatakan, "kata-katamu adalah doa." Saya sering mengalami ini. Dan saya bersyukur karena kata-kata saya yang terbaik yang menjadi doa dalam kenyataan.
Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa, saya begitu mengagumi Jerman karena konsep Jurnalistik Jerman lebih original. Lalu saya membatin, semoga satu hari saya bisa ke sana untuk belajar. Lima tahun lebih setelah kata-kata yang dalam kepala itu terucap, saya mendapat kesempatan untuk fellowship di Jerman. Ya cuman pelatihan sih, sebulan doang lagi. Tapi buat saya itu salah satu legenda pribadi saya yang tercapai. "Saya telah melihat piramida itu," ucap Santiago seraya menitikan air matanya.
Selepas kuliah, saya menganggur hampir setahun lebih. Alasannya idealis, saya ingin bekerja di media yang menulis tema-tema yang saya suka. Inceran saya saat itu, Majalah Basis. Majalah filsafat kebudayaan yang emang ngga perlu reporter karena semua tulisannya adalah kiriman orang-orang pinter :D Tapi saya tetap membatin, saya ingin satu saat realitas yang berkorban demi saya. Mau mengakui bahwa saya bisa melakukan apa yang saya suka dan dibayar.
Dan legenda pribadi saya yang ini, tengah saya lakoni selama sebulan ini. Bekerja sebagai editor di majalah online PreventionIndonesia.com. Saya merasa sangat bersyukur karena media online ini membahas mengenai kesehatan dan perempuan. Wilayah yang menurut saya sangat mewakili nafsu intelektualitas saya selama menjadi buruh tinta.
Banyak tanggung jawab yang ditawarkan ke saya. Mulai harus bikin tema, polling, ngedit sampai mulai mencari cara agar tetap berjalan dengan "asupan" yang menyehatkan. Saya semakin tersadar ketika seseorang mengatakan pada saya, "Kita udah di level manejerial jadi harus mulai mikir gimana semuanya biar laku." Jujur saya kaget, karena sebelumnya saya terlalu asik dengan hanya liputan dan memberikan laporan dalam bentuk tulisan. Dan kini saya ditantang untuk bisa memimpin, kreatif, dan bertanggung jawab pada pembaca.
Kadang saya merasa, Am I not to fast for this. Tapi saya kubur dalam-dalam rasa itu, saya takut otak merekamnya menjadi doa. Saya percaya, ketika Santiago memilih untuk meninggalkan apa yang dia punya untuk mencari sesuatu yang sebenarnya hanya berupa ide, dia sudah mengerti bagaimana agar sampai pada pewujudan ide itu. Kalau Santiago berani, kenapa saya tidak.
Saya semakin yakin, ketika baru 5 hari kerja, kantor memfasilitasi saya dengan laptop. Iya laptop, barang yang dari 2006 saya pengen-pengen tapi selalu gagal untuk alasan ekonomi. Saya sangat diberkati, laptop ada di tangan tanpa harus membayar seperak pun. Cuman pegel aja, setiap hari harus luntang-lantung bawa barang berat itu. Tapi well semuanya harus membawa sesuatu untuk sampai pada legenda pribadi berikutnya kan.
Kepada Sang Pencipta Legenda Pribadi, saya percaya Dirimu tidak pernah mencelakai kekuasaanMu sendiri. Ketika Kau memutuskan untuk memberikan semua ini padaku, Kau pasti tidak tengah bermain dadu apakah aku bisa atau tidak. Kau yakin aku bisa dan aku yakin itu. Dan dengan segala keyakinan yang Kau selipkan di dalam kepalaku, biarkan aku menjadi padi menundukkan kepala bukan karena kalah tapi karena begitu rindu untuk membagikan apa yang ada ke bawah. Plus, mampukan aku tidak sekedar menjadi daging yang melongo tanpa makna. Biar daging yang bisa melahirkan ini, bertanggung jawab atas hidup yang Kau beri dengan menikmatinya seutuhnya. Dengan segala kerendahan hati, mari jalan bersamaku ke Legenda Pribadi yang berikutnya.
Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa, saya begitu mengagumi Jerman karena konsep Jurnalistik Jerman lebih original. Lalu saya membatin, semoga satu hari saya bisa ke sana untuk belajar. Lima tahun lebih setelah kata-kata yang dalam kepala itu terucap, saya mendapat kesempatan untuk fellowship di Jerman. Ya cuman pelatihan sih, sebulan doang lagi. Tapi buat saya itu salah satu legenda pribadi saya yang tercapai. "Saya telah melihat piramida itu," ucap Santiago seraya menitikan air matanya.
Selepas kuliah, saya menganggur hampir setahun lebih. Alasannya idealis, saya ingin bekerja di media yang menulis tema-tema yang saya suka. Inceran saya saat itu, Majalah Basis. Majalah filsafat kebudayaan yang emang ngga perlu reporter karena semua tulisannya adalah kiriman orang-orang pinter :D Tapi saya tetap membatin, saya ingin satu saat realitas yang berkorban demi saya. Mau mengakui bahwa saya bisa melakukan apa yang saya suka dan dibayar.
Dan legenda pribadi saya yang ini, tengah saya lakoni selama sebulan ini. Bekerja sebagai editor di majalah online PreventionIndonesia.com. Saya merasa sangat bersyukur karena media online ini membahas mengenai kesehatan dan perempuan. Wilayah yang menurut saya sangat mewakili nafsu intelektualitas saya selama menjadi buruh tinta.
Banyak tanggung jawab yang ditawarkan ke saya. Mulai harus bikin tema, polling, ngedit sampai mulai mencari cara agar tetap berjalan dengan "asupan" yang menyehatkan. Saya semakin tersadar ketika seseorang mengatakan pada saya, "Kita udah di level manejerial jadi harus mulai mikir gimana semuanya biar laku." Jujur saya kaget, karena sebelumnya saya terlalu asik dengan hanya liputan dan memberikan laporan dalam bentuk tulisan. Dan kini saya ditantang untuk bisa memimpin, kreatif, dan bertanggung jawab pada pembaca.
Kadang saya merasa, Am I not to fast for this. Tapi saya kubur dalam-dalam rasa itu, saya takut otak merekamnya menjadi doa. Saya percaya, ketika Santiago memilih untuk meninggalkan apa yang dia punya untuk mencari sesuatu yang sebenarnya hanya berupa ide, dia sudah mengerti bagaimana agar sampai pada pewujudan ide itu. Kalau Santiago berani, kenapa saya tidak.
Saya semakin yakin, ketika baru 5 hari kerja, kantor memfasilitasi saya dengan laptop. Iya laptop, barang yang dari 2006 saya pengen-pengen tapi selalu gagal untuk alasan ekonomi. Saya sangat diberkati, laptop ada di tangan tanpa harus membayar seperak pun. Cuman pegel aja, setiap hari harus luntang-lantung bawa barang berat itu. Tapi well semuanya harus membawa sesuatu untuk sampai pada legenda pribadi berikutnya kan.
Kepada Sang Pencipta Legenda Pribadi, saya percaya Dirimu tidak pernah mencelakai kekuasaanMu sendiri. Ketika Kau memutuskan untuk memberikan semua ini padaku, Kau pasti tidak tengah bermain dadu apakah aku bisa atau tidak. Kau yakin aku bisa dan aku yakin itu. Dan dengan segala keyakinan yang Kau selipkan di dalam kepalaku, biarkan aku menjadi padi menundukkan kepala bukan karena kalah tapi karena begitu rindu untuk membagikan apa yang ada ke bawah. Plus, mampukan aku tidak sekedar menjadi daging yang melongo tanpa makna. Biar daging yang bisa melahirkan ini, bertanggung jawab atas hidup yang Kau beri dengan menikmatinya seutuhnya. Dengan segala kerendahan hati, mari jalan bersamaku ke Legenda Pribadi yang berikutnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)