Saturday, May 30, 2009

Tanggung Jawab Itu Saya Terima

Mungkin memang ada benarnya ucapan yang mengatakan, "kata-katamu adalah doa." Saya sering mengalami ini. Dan saya bersyukur karena kata-kata saya yang terbaik yang menjadi doa dalam kenyataan.

Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa, saya begitu mengagumi Jerman karena konsep Jurnalistik Jerman lebih original. Lalu saya membatin, semoga satu hari saya bisa ke sana untuk belajar. Lima tahun lebih setelah kata-kata yang dalam kepala itu terucap, saya mendapat kesempatan untuk fellowship di Jerman. Ya cuman pelatihan sih, sebulan doang lagi. Tapi buat saya itu salah satu legenda pribadi saya yang tercapai. "Saya telah melihat piramida itu," ucap Santiago seraya menitikan air matanya.

Selepas kuliah, saya menganggur hampir setahun lebih. Alasannya idealis, saya ingin bekerja di media yang menulis tema-tema yang saya suka. Inceran saya saat itu, Majalah Basis. Majalah filsafat kebudayaan yang emang ngga perlu reporter karena semua tulisannya adalah kiriman orang-orang pinter :D Tapi saya tetap membatin, saya ingin satu saat realitas yang berkorban demi saya. Mau mengakui bahwa saya bisa melakukan apa yang saya suka dan dibayar.

Dan legenda pribadi saya yang ini, tengah saya lakoni selama sebulan ini. Bekerja sebagai editor di majalah online PreventionIndonesia.com. Saya merasa sangat bersyukur karena media online ini membahas mengenai kesehatan dan perempuan. Wilayah yang menurut saya sangat mewakili nafsu intelektualitas saya selama menjadi buruh tinta.

Banyak tanggung jawab yang ditawarkan ke saya. Mulai harus bikin tema, polling, ngedit sampai mulai mencari cara agar tetap berjalan dengan "asupan" yang menyehatkan. Saya semakin tersadar ketika seseorang mengatakan pada saya, "Kita udah di level manejerial jadi harus mulai mikir gimana semuanya biar laku." Jujur saya kaget, karena sebelumnya saya terlalu asik dengan hanya liputan dan memberikan laporan dalam bentuk tulisan. Dan kini saya ditantang untuk bisa memimpin, kreatif, dan bertanggung jawab pada pembaca.

Kadang saya merasa, Am I not to fast for this. Tapi saya kubur dalam-dalam rasa itu, saya takut otak merekamnya menjadi doa. Saya percaya, ketika Santiago memilih untuk meninggalkan apa yang dia punya untuk mencari sesuatu yang sebenarnya hanya berupa ide, dia sudah mengerti bagaimana agar sampai pada pewujudan ide itu. Kalau Santiago berani, kenapa saya tidak.

Saya semakin yakin, ketika baru 5 hari kerja, kantor memfasilitasi saya dengan laptop. Iya laptop, barang yang dari 2006 saya pengen-pengen tapi selalu gagal untuk alasan ekonomi. Saya sangat diberkati, laptop ada di tangan tanpa harus membayar seperak pun. Cuman pegel aja, setiap hari harus luntang-lantung bawa barang berat itu. Tapi well semuanya harus membawa sesuatu untuk sampai pada legenda pribadi berikutnya kan.

Kepada Sang Pencipta Legenda Pribadi, saya percaya Dirimu tidak pernah mencelakai kekuasaanMu sendiri. Ketika Kau memutuskan untuk memberikan semua ini padaku, Kau pasti tidak tengah bermain dadu apakah aku bisa atau tidak. Kau yakin aku bisa dan aku yakin itu. Dan dengan segala keyakinan yang Kau selipkan di dalam kepalaku, biarkan aku menjadi padi menundukkan kepala bukan karena kalah tapi karena begitu rindu untuk membagikan apa yang ada ke bawah. Plus, mampukan aku tidak sekedar menjadi daging yang melongo tanpa makna. Biar daging yang bisa melahirkan ini, bertanggung jawab atas hidup yang Kau beri dengan menikmatinya seutuhnya. Dengan segala kerendahan hati, mari jalan bersamaku ke Legenda Pribadi yang berikutnya.

Monday, April 27, 2009

Makan Siang ala Komandan Polisi

Siang ini, saya dan pacar saya memilih untuk makan siang di Gado-Gado Bobplo. Maklum, pacar saya baru tiba dari pengembaraanya di negeri Jiran. Jadi hasrat untuk makan-makanan tradisional menggebu-gebu. Kembali ke lidah asal.

Saat kami sedang menikmati gado-gado yang identik dengan bumbu kacang yang kental, tiba-tiba ada seorang Bapa mengisi bangku-bangku di hadapan kami. Satu meja terdiri dari empat bangku dan Bapa berkulit putih itu menempati satu meja khusus. Gayanya sangat santai sekali, tidak terlihat kelaparan berat seperti kami.

Tidak lama setelah Bapa itu duduk, datang seorang pria tinggi menyeret kursi dari meja sebelah Bapa tersebut. Pria tinggi berseragam coklat ini dengan cekatan memanggil pelayan. Setelah pelayan menangkap lambaian tangan, pria tinggi berseragam, mengarahkan telunjukkan ke meja Bapa putih bertubuh sedikit gempal.

Ternyata pria tinggi berseragam tidak sendiri, di belakangnya tegap berjalan dua polisi. Dua polisi menyeret bangku dari meja yang sama dengan pria tinggi berseragam. Saya berbisik pada pacar saya,"Kenapa mereka ngga duduk satu meja aja ya yang?" Pacar saya hanya membalas, "Psssttt...nanti kedengaran."

Belakangan, datang juga seorang pria bersafari hitam dan berkaca mata. Pria tinggi berseragam, menyilahkan pria bersafari untuk duduk di sampingnya. Saya berasumsi, pria putih berbadan gempal itu pastilah petinggi instansi tertentu. Pria tinggi berseragam adalah ajudannya, ini diperkuat karena selalu membawa tas hitam yang menyerupai agenda. Sedangkan pria bersafari hitam adalah supirnya.

Sang pria putih berbadan gempal, selesai memesan makanan dan meminta sesuatu pada ajudannya. Yang terdengar oleh saya, hanyalah balasan Sang Ajudan. "Siap komandan," seraya menyerahkan dua buah handphone.

Komandan menekan keypad dan berbicara, "Tadi pagi, saya sampai bandara jam 09.30 ...." saya tidak mendengar jelas apa kata komandan ini karena lagu yang diputar restoran berpadu dengan suara hujan yang deras. "Saya sudah lama pakai jasa perusahaan Anda."

Tidak lama kemudian, makanan komandan datang. Tungku kecil berwarna perak mengeluarkan asap dengan aroma yang nikmat. Sang Komandan,kembali memanggil ajudannya. Memberikan perintah dan ajudan pun menghampiri pelayan. Sesaat kemudian,pelayan datang membawa gelas berisi air panas.

Air panas diterima dengan sigap dan memasukkan sendok serta garpu ke dalamnya. Setelah terendam beberapa detik, komandan mengangkat sendok garpu tersebut dan mengelapnya dengan tisu. "Wah higienis sekali," batin saya.

Tiba giliran pelayan mengantarkan makanan para pendamping komandan. Uniknya sebelum makan, mereka punya kata sandi. "Mohon ijin komandan untuk makan." Sang komandan dengan santai atau bahkan setengah tidak peduli karena sedang menikmati makananya hanya mengganggukkan kepala.

"Wah makan aja minta ijin," saya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Pacar saya yang awalnya tidak peduli untuk berkomentar, akhirnya mengeluarkan suara, "Hah masa sih?!?"

Mereka makan selahapnya dan usai komandan selesai makan, ajudan memberikan sebungkus rokok dan matches. Sang Komandan menyalakan rokok sambil menghisap dalam-dalam. Saat kepulan asap rokok dihembuskan, handphone komandan berbunyi. "Iya, saya ini sebenarnya ingin marah kepada Ibu. Ibu tau, bawahan itu tidak mengeri konfirmasi..." Komandan mengeluarkan uneg-uneg dan para ajudan menikmati makananya.

Selesai menunjukkan kekuasaanya pada perusahaan taksi yang melakukan kesalahan, komandan bercerita. "Ibunya bilang, maaf Pa atas kinerja bawahan saya," sambil ketawa cengengesan. Ketawa cengengesan inilah yang membuat saya sedikit tidak nyaman. Rasanya komandan puas menggunakan kekuasaanya untuk dilayani bak raja. Berbagi cengengesan dengan bawahan menunjukkan betapa dia punya pengaruh, jadi jangan macam-macam sama dia.

Kenapa komandan bangga sekali mengintimidasi. Dia tidak memberi peringatan dengan tendensi mengedukasi tapi lebih kepada, layani saya dengan baik atau kalau tidak perusahaanmu celaka. Para ajudan ikut cengengesan sambil mengucapkan, "Siap komandan....siap setuju komandan." Tidak hanya itu, mereka memperhatikan detail cerita komandan, seolah hal itu patut ditiru agar ketika kejadian yang sama terjadi semuanya mempunyai guru untuk amalkan.

Selesai menghisap rokok, komandan meminta ajudannya untuk membayar. Dompet berbentuk agenda itu dibuka, ajudan mengeluarkan lembaran ratusan ribu. Saat menunggu pelayan menyerahkan bukti rincian, komandan memberikan intruksi. "Ayo kita jalan sekarang." "Siap komandan," semuanya menjawab sambil berdiri padahal di tangan mereka rokok baru saja dinyalakan. Hisapan awal menjadi hisapan akhir.

Komandan berjalan di depan, ajudan bertubuh tinggi memeriksa meja. Memungut bungkus rokok dan matches. "Hatssssimmmm...." ajudan bersin seraya mengambil tisu. Tisu tipis yang menyentuh hidungnya yang berair itu, digumpalnya dalam genggaman tangan. Setelah itu tisu diletakkan sembarang di kursi kosong yang melintasinya. Kenapa dia tidak buang di tempat sampah ya? Apa dia tidak takut, kalau satu hari komandan memilih duduk di kursi yang telah ditempeli virus flunya?

Ah ternyata makan siang bersama komandan tidak seru. Penuh perintah dan terlalu dimanjakan. "Namanya juga komandan neng, raja kecil"ucap pacar saya sambil meledek.

Tuesday, April 14, 2009

A Sign

Pernahkah kamu ngerasain pengen sesuatu teramat semangat tapi tidak yakin apakah hal itu yang terbaik. Bila di posisi seperti ini yang biasa saya lakukan adalah meminta petunjuk Sang Empunya pertanda.

Kalau memang apa yang diinginkan yang terbaik, diukur berdasarkan Sang Pemberi Tanda melancarkan segala sesuatunya. Tapi kalau apa yang diinginkan bukan yang terbaik, ya tidak perlu proses yang lancar.

Tapi lucunya, pertanda yang saya inginkan mengalami pasang surut. Untuk satu waktu semuanya dimudahkan. Lalu tiba-tiba, mendekati waktu eksekusi mejewantahkan keputusan, ada aja rintangannya. Dan ketika memutuskan untuk membatalkan pengejewantahan keputusan itu, kemudahan diberikan lagi.

Kalau kondisinya seperti itu, apakah itu pertanda baik atau pertanda buruk. Pertanda bahwa sesuatu yang kita inginkan itu baik buat kita atau sebaliknya?

Gimana sih caranya menilai sesuatu yang subjektif dengan kaca mata objektif? What is a good sign or what is a bad sign...Oh now give me a sign ...