Sunday, November 8, 2009

3 Tahun Kebersamaan

6 November lalu, saya dan pacar merayakan komitmen kebersamaan.Hmmmm....komitmen kebersamaan, dulu pas mengawalinya, modal saya hanya rasa suka karena enak diajak ngomong dan pintar. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa suka saya berubah jadi nyaman.

Saya bisa jadi anak kecil yang super manja setiap kali bersama dia. Benar-benar berusaha untuk membuat dia hanya memperhatikan saya. Rasa nyaman juga membuat saya tenang setiap kali bergandengan atau berpelukan dengan dia. Bahkan setiap kali kami akan berpisah, saya selalu menyelipkan doa dalam hati, meminta Pemilik Cinta untuk mengijikan kami menikmati rasa ini selamanya.

Meski berjalan lumayan lama, kami masih berbeda pendapat dalam beberapa hal. Saya termasuk orang yang cuek dan santai dalam menjalani hidup. Sedangkan pacar saya, sangat serius dan mendalami semua rutinitas dengan kening berkerut. Kadang-kadang sih saya berpikir, apa pacar saya ngga cape mikir ribet begitu? Tapi tidak jarang juga saya mengagumi pikirannya yang filosofis.

Kalau soal kesamaan, ntah bagaimana menjelaskannya secara detail, tapi saya percaya kita berdua punya passion atas apa yang kita jalanin. Itu kenapa, selalu menyenangkan untuk berbagi cerita dan "pikiran" liar bersama dia. Alhasil rasa cinta kami semakin dalam dan ini semua menyenangkan.

Kami juga sadar, pembatasan sosial atas identitas yang kami punya menjadi "kerikil" besar dalam perjalanan kebersamaan kami. Tapi kami punya keyakinan, rasa ini tulus yang kemudian membuat kami memberanikan diri untuk fight for it. Dengan mengirim beribu doa dan pengertian pada orang-orang sekitar, saya yakin semuanya akan bisa dilalui dengan segala keyakinan serta risiko yang siap diterima.

Saya hanya meminta, kami bisa berbagi hidup selamanya. Dia menjadi rekan hidup saya dan saya menjadi rekan hidupnya. Dia memenuhi gelas kasih eros saya dan saya melakukan hal yang sama dengan senang hati :D

Makasih ya sayang, buat kebersamaan ini. Kalau memperingati komitmen berpacaran saja begitu bikin kita deg-degan, pasti lebih enak kalau kita bisa memperbesar rasanya dengan komitmen hidup bersama. Karena itu, yuk kita tetap menyakini apa yang kita punya karena hanya keyakinanlah yang bisa mengantarkan alam untuk mendukung segala impian kita. Sayang kamu banget dan miss you already everytime.God bless you sayang :D

Sunday, November 1, 2009

Mengugat Identitas

Saya sedang marah,

Marah karena ternyata kita terlalu sering menilai seseorang atau lebih tepatnya menyimplikasi seseorang dari identitas yang melekat. Mulai dari apakah dia perempuan, laki-laki, suku, ras, hingga agama.

Buat saya, individu itu adalah esensi utuh yang tidak bisa hanya dirunut dalam kategori tersebut. Mungkin ngga ya, seseorang dari lahir sampai mati menggenapi hari-harinya tanpa harus dibatasi dengan identitas. Cukup disebut sebagai, ya ini Priska yang keras kepala dan punya keyakinan kuat atas apapun yang dipilihnya. Tanpa kemudian diperjelas menjadi, Priska yang anak perempuan satu-satunya dari keluarga batak yang patrilineal dan kristen itu, keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan apa yang dikatakan sekitarnya.

Ah saya sedang menggugat sistem sosial yang menyerhanakan proses manusia dalam beberapa penggalan stigmasasi. Saya butuh, orang melihat saya lebih lebar dari pada sekedar pengabdian pada keluarga, negara, dan agama. Karena identitas yang sederhana itu semuanya merujuk pada "pembayaran hutang" karena telah diklasifikasikan dalam tiga hal tersebut.

Ini unek-unek mendekati hari saya menjadi hidup...padahal biasanya saya merayakannya dengan ritual kontemplasi yang menyejukkan jiwa...tapi kok ya sekarang saya justru mengisi hari dengan marah-marah ya...Jangan-jangan ada yang membaca blog ini dan berujar, "Ngga bersyukur bener nih orang."

Well saya mensyukuri banyak hal, termasuk ketika saya tidak puas dengan tuntutan sosial seperti sekarang ini. Ah Tuhan, kenapa sih, Kau tidak membisikkan kepada telinga setiap manusia, bahwa ciptaanmu terlalu kompleks untuk hanya diartikan sebagai pengabdi keluarga, negara, dan agama. Saya sedang menumpuk keberanian untuk melawan itu semua, tolong bantu saya ya pencipta kehidupan.

Saturday, October 31, 2009

Perkenalan

Akhirnya hari ini datang juga, sang kekasih berkenalan dengan mamaku. Entah apa yang dirasakan pacar saya, tapi saya sudah mulai deg-degan sejak dua hari lalu. Tapi saya juga percaya, kesayangan saya bisa menghadapinya dengan baik.

Hasilnya....

Siang tadi, tepat di hari hallowen mulai jadi komersil di jakarta, saya mengajak mama dan inang tua makan di restoran bernuansa sunda yang berlokasi di Sarinah. Awalnya, pacar saya memilih tempat yang bertempat duduk tapi akhirnya kami berpindah ke yang lesehan.

Sesi memilih makanan menjadi lebih santai dan diselingin tawa, karena beberapa makanan tidak ada jadi kami memilih untuk membuat pernyataan-pernyataan lucu agar suasana lebih kondusif :D Saat makan pun berjalan relaks, karena ada sesi tanya-jawab soal bagaimana makanan kita.

Tapi agendanya bukan itu, setidaknya itu yang saya yakini ketika dari tahun kemarin, mama mengajak saya untuk bertemu dengan pacar saya. Selesai mama makan, tidak tunggu makanan dicerna halus oleh sistem pencernaan, mama mengajukan pertanyaan serius. Dan bola-bola pertanyaan serius pun semakin membulat. Saya sendiri ingin sekali rasanya memeluk pacar saya untuk membisikkan, sabar ya sayang pertanyaannya emang frontal.

Tapi pacar saya sangat tenang, dia bahkan beberapa kali menempatkan dirinya pada posisi mama saya. Dia beberapa kali mengamini dan merespon pernyataan-pernyataan yang menekan dengan bahasa yang halus serta tenang. Saya menangkap mama melakukan kontak mata kepada pacar saya ketika meluncurkan pertanyaan "misinya". Dan lagi-lagi, pacar saya tidak mengimbanginya dengan frontal tapi justru mengerti serta berharap adanya pengertian.

Ada kejadian lucu sebenarnya, ketika mama bilang bahwa restu orang tua itu paling esensi dalam suatu pernikahan. Mama meminta pendapat inang tua, tapi inang tua justru tidak mengamininya. Karena perjalanan hidupnya cukup mengantarkan dia pada esensi kehidupan yang lain. Ada rasa lega sebenarnya, sebab inang tua benar-benar menempatkan diri pada peran mediator. Tidak memihak hanya memberikan pendapat dan pengertian dari pengalaman yang dia ketahui. Reaksi inang tua yang jujur inilah yang kemudian saya twist menjadi pencair suasana. Berharap mama bisa mengerti bahwa definisi kebahagiaan dan restu orang tua tidak selamanya berjalan linear.

"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan, tapi kita menjalaninya dengan keyakinan," inang tua sempat menimpali seperti itu. Dan pacar saya pun mengambil momen itu dengan kembali menegaskan keyakinan apa yang kami punya.

Saya ingat, menaruh tangan saya di paha pacar saya. Berharap dia bisa tahu, saya akan membantu dia dan memohon dia untuk tidak merasa dipojokkan. Tapi selain menenangkan dia, saya juga melakukan hal itu untuk menenangkan diri saya sendiri karena ada beberapa pernyataan mama yang seharusnya tidak terucap. Yah well, lagi-lagi saya disadarkan oleh pacar saya, reaksi mama adalah reaksi yang wajar diberikan seorang ibu terhadap niatan anak perempuan satu-satunya untuk memilih pasangan hidup yang berbeda agama.

Tapi pada akhirnya, saya merasa, pertemuan ini adalah awal yang baik. Karena pacar saya sempat memberikan pernyataan penutup, yang intinya berterima kasih pada mama dan inang tua yang mau menemui kami berdua. "Setidaknya saya jadi mengerti situasinya seperti apa," ucapnya dengan lembut tadi.

Ah Tuhan, mengapa sih kau biarkan umatmu menjadi ribet dengan perbedaan agama dan kesukuan. Dan mengapa harus ada terminologi, satu kapal itu harus satu nahkoda. Apa sih kepala rumah tangga itu? Toh pada prakteknya, tidak semua keputusan secara bulat diambil dan dilakukan secara utuh oleh kepala keluarga kan (baca : laki-laki). Bukankah hidup berumah tangga sebenarnya adalah esensi dari berbagi. Berbagi tanggung jawab, berbagi rasa sayang, berbagi mimpi. Tidak ada kan yang semuanya dilakukan ansich secara sendiri. Punya anak aja mesti berdua, lalu kenapa harus selalu membatasi diri dengan siapa harus menentukan apa dalam rumah tangga. Dan penentuan agama apa yang ada dalam rumah tangga, kemudian menjadi lebih aman atau mudah ketika pasangan mengayuh ke satu perairan keagamaan yang sama.

Ini sebenarnya memaksakan prinsip ketuhanan dalam berumahtangga dan bercinta. Apa iya, rumah tangga yang bertuhan sama menjadi jaminan tidak akan ada masalah. Menjadi jalan keluar yang paling benar untuk membentuk karakter anak yang mumpuni? Sepertinya semua proses tidak berjalan dengan selinier itu kan?

Adakah cara untuk membuat kedua orang tua kami mengerti? Kalau bagi mama saya, orang tua akan bahagia dan mengerti ketika kami kemudian menjadi satu keyakinan. Entah mengapa saya jadi malas mengulik tentang keyakinan. Saya jadi merasa semua orang berhak mendefinisikan kebahagiaan buat saya, tapi saya tidak berhak mendefinisikan kebahagiaan saya. Semakin besar, saya semakin benci dengan keberadaan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga yang patriakal.

Terima kasih ya Sang Empunya Kehidupan, untuk memberikan pacar saya ketenangan dan kemampuan untuk menjawab semua pertanyaan. Setidaknya kami berani menghadapi tantangan hari ini, setidaknya kami berani berbicara mengenai keyakinan kami untuk berbagi hidup. Saya percaya setiap usaha akan memberikan hasil dan saya lebih percaya, apapun hasilnya itu adalah yang terbaik bagi kami. Ketika Kau memercayai kami melalui tantangan hari ini, saya percaya kami akan bisa lebih kuat lagi memasuki proses sebelumnya.

Bantu kami untuk menemukan keyakinan yang sama pada keluarga kami. Bantu kami untuk bisa menunjukkan kepada mereka, bahwa rasa sayang yang kami punya lahir dari keimanan kami menikmati serta berbagi hidup. Tolonglah percaya pada kami, hanya itu yang kami minta.