This is an official statement from the owner of the blog :
We are in the deepest sorrow, because the butterfly was asked to limited her own expression.
Sunday, October 25, 2009
Sunday, September 27, 2009
Panas terik yang romantik
Jalan besar yang gersang menuju RS. Internasional Bintaro itu terasa sangat menggoda roda motor Honda Supra Fit untuk melaju kencang, karena jalanannya sangat lengang. Tapi dua mahluk yang duduk di atasnya tengah berburu "spanduk" masa depan.
Sambil mengendalikan Supra Fit, sang pria berkata, "Panas ya yang, kalau lagi kaya gini ban motor kempes mantep banget dah." Si perempuan, hanya menelan ludah. Maklum panas matahari membuatnya dehidrasi lebih cepat. "Haus yang, pengen minum."
Keduanya asik memperhatikan spanduk-spanduk penawaran rumah dari developer, karena itulah laju motor sangat pelan meskipun aspal yang mulus itu banyak dilewati kendaraan dengan kencang. Saking asiknya liat spanduk, sesekali si pengendali motor tidak memerhatikan adanya polisi tidur membentang di depan mata. Jadi aksi ngerem mendadak, yang tidak disukai kekasihnya pun, diterima sebagai konsekuensi jalan di jalan baru.

Tapi tiba-tiba, pengendali motor merasa kehilangan keseimbangan karena supra fit melambat seolah tak bertenaga. Keduanya menundukkan kepala melihat ban, LUAR BIASA, ban belakang kempes hingga menempel aspal dengan sempurna. Pasang kekasih ini pun saling memandang, berjuta kata melintas di kepala tapi tidak ada yang mau keluar menjadi suara.
Si perempuan turun, sambil membuka helm. Sedangkan si pengendali motor, mengulum senyum malu-malu. "Tuh kan sayang, kata-katamu adalah doamu. Makanya jangan ngomong kempes-kempes kejadian deh," ucap si perempuan sambil menyibakkan rambutnya yang basah karena disarungi helm. Si pengendali motor tidak lagi dapat mengulum senyum, "Hahahaha...is not your lucky day honey."
Alhasil keduanya pun mengiringi putaran roda motor yang malas berputar. Di depan mata yang terlihat hanya kantor-kantor yang lengan tanpa ada tanda-tanda bengkel atau tambal ban. "Alamat bisa 2 kilometer nih neng jalannya." Si langsung berkomentar, "Psssttt...watch your words...udah kamu jangan ngomong yang macem-macem, ini aja udah luar biasa."
Sepanjang jalan melawan panas, keduanya coba mencairkan kekesalan. "Pasti mobil-mobil yang lewat pada bilang, ih pasangan itu sial bener nasibnya narik motor panas-panasan. Eh itu pacaran apa tukang ojek sama penumpang ya," si perempuan coba menyindir kekasih hatinya. "Jangan gitu neng, ini kan di luar kuasa kita hehehehehe."
Saat matahari makin terasa menyengat kulit, ada bengkel. Si perempuan merasa ini adalah pertolongan, tapi semakin dekat yang terlihat adalah bengkel mobil yang tutup. "Beautifull coincidence," grutunya dalam hati. Di depan bengkel mobil yang tutup itu duduk tiga bapak-bapak yang seolah sudah biasa melihat orang menggiring motor. "Tanya gih yang, bengkelnya ada di mana," ucap perempuan yang rambutnya kemerahan.
Si kekasih hati pun menghampiri sumber informasi berharga itu. Dari jarak 100 meter, si perempuan mengamati apa yang dibicarakan kekasih hatinya dengan bapak-bapak yang tengan duduk menikmati hari. "Wah petunjukknya kayanya jauh nih," si perempuan coba membaca bahasa isyarat yang dikeluarkan sambil mempersiapkan diri jalan jauh dengan menenggak air mineral yang ditaruh dalam plastik hitam dengan dua roti sebagai bekal.
"Tenang neng, tambal bannya ada kok...ngga jauh samping honda," si pengendali motor coba menyakinkan dengan senyuman. "Emang kamu tahu di mana hondanya?" "Kita cari sama-sama ya sayang," senyum pengendali motor semakin menyungging.
Yah, panas-panas pacaran memang penuh kejutan. Mulai keringetan, kehausan, sampai sinar matahari yang rasanya sudah di depan mata, adalah kondisi yang harus diubah menjadi kenangan manis. Pasangan ini memang akhirnya menemukan tambal ban, dua sekaligus bahkan. Tidak hanya itu, petualangan mereka tidak berhenti sekedar di tambal bal karena penjelajahan untuk membuktikan bahasa iklan developer pun menemukan jawabannya.
Semua kekesalan yang diselingi dengan banyak tawa adalah harga yang pantas untuk memburu masa depan kita sayang. Ini akan jadi cerita manis untuk keturunan kita selanjutnya, Amin :D
Sambil mengendalikan Supra Fit, sang pria berkata, "Panas ya yang, kalau lagi kaya gini ban motor kempes mantep banget dah." Si perempuan, hanya menelan ludah. Maklum panas matahari membuatnya dehidrasi lebih cepat. "Haus yang, pengen minum."
Keduanya asik memperhatikan spanduk-spanduk penawaran rumah dari developer, karena itulah laju motor sangat pelan meskipun aspal yang mulus itu banyak dilewati kendaraan dengan kencang. Saking asiknya liat spanduk, sesekali si pengendali motor tidak memerhatikan adanya polisi tidur membentang di depan mata. Jadi aksi ngerem mendadak, yang tidak disukai kekasihnya pun, diterima sebagai konsekuensi jalan di jalan baru.

Tapi tiba-tiba, pengendali motor merasa kehilangan keseimbangan karena supra fit melambat seolah tak bertenaga. Keduanya menundukkan kepala melihat ban, LUAR BIASA, ban belakang kempes hingga menempel aspal dengan sempurna. Pasang kekasih ini pun saling memandang, berjuta kata melintas di kepala tapi tidak ada yang mau keluar menjadi suara.
Si perempuan turun, sambil membuka helm. Sedangkan si pengendali motor, mengulum senyum malu-malu. "Tuh kan sayang, kata-katamu adalah doamu. Makanya jangan ngomong kempes-kempes kejadian deh," ucap si perempuan sambil menyibakkan rambutnya yang basah karena disarungi helm. Si pengendali motor tidak lagi dapat mengulum senyum, "Hahahaha...is not your lucky day honey."
Alhasil keduanya pun mengiringi putaran roda motor yang malas berputar. Di depan mata yang terlihat hanya kantor-kantor yang lengan tanpa ada tanda-tanda bengkel atau tambal ban. "Alamat bisa 2 kilometer nih neng jalannya." Si langsung berkomentar, "Psssttt...watch your words...udah kamu jangan ngomong yang macem-macem, ini aja udah luar biasa."
Sepanjang jalan melawan panas, keduanya coba mencairkan kekesalan. "Pasti mobil-mobil yang lewat pada bilang, ih pasangan itu sial bener nasibnya narik motor panas-panasan. Eh itu pacaran apa tukang ojek sama penumpang ya," si perempuan coba menyindir kekasih hatinya. "Jangan gitu neng, ini kan di luar kuasa kita hehehehehe."
Saat matahari makin terasa menyengat kulit, ada bengkel. Si perempuan merasa ini adalah pertolongan, tapi semakin dekat yang terlihat adalah bengkel mobil yang tutup. "Beautifull coincidence," grutunya dalam hati. Di depan bengkel mobil yang tutup itu duduk tiga bapak-bapak yang seolah sudah biasa melihat orang menggiring motor. "Tanya gih yang, bengkelnya ada di mana," ucap perempuan yang rambutnya kemerahan.
Si kekasih hati pun menghampiri sumber informasi berharga itu. Dari jarak 100 meter, si perempuan mengamati apa yang dibicarakan kekasih hatinya dengan bapak-bapak yang tengan duduk menikmati hari. "Wah petunjukknya kayanya jauh nih," si perempuan coba membaca bahasa isyarat yang dikeluarkan sambil mempersiapkan diri jalan jauh dengan menenggak air mineral yang ditaruh dalam plastik hitam dengan dua roti sebagai bekal.
"Tenang neng, tambal bannya ada kok...ngga jauh samping honda," si pengendali motor coba menyakinkan dengan senyuman. "Emang kamu tahu di mana hondanya?" "Kita cari sama-sama ya sayang," senyum pengendali motor semakin menyungging.
Yah, panas-panas pacaran memang penuh kejutan. Mulai keringetan, kehausan, sampai sinar matahari yang rasanya sudah di depan mata, adalah kondisi yang harus diubah menjadi kenangan manis. Pasangan ini memang akhirnya menemukan tambal ban, dua sekaligus bahkan. Tidak hanya itu, petualangan mereka tidak berhenti sekedar di tambal bal karena penjelajahan untuk membuktikan bahasa iklan developer pun menemukan jawabannya.
Semua kekesalan yang diselingi dengan banyak tawa adalah harga yang pantas untuk memburu masa depan kita sayang. Ini akan jadi cerita manis untuk keturunan kita selanjutnya, Amin :D
Sunday, August 16, 2009
Bila Kita Tua Nanti
Belakangan, saya dan pacar sering bercerita tentang hidup kita saat usia senja menghampiri. Pacar saya sih ngga mau hidup sendirian saat tua, sedangkan saya mulai berpikir ngga masalah kok di panti jompo.
Sebab gua terinspirasi dengan cerita Athied soal maminya yang selalu tidak mau ngerepotin anaknya. Maminya Athied malah sudah siap sedia untuk itu, karena katanya dia akan lebih pusing kalau harus merasa ngerepotin anak-anaknya. Toh setiap anak ketika sudah berumah tangga pasti punya masalah sendiri.
Tapi pacar saya serem bayangin kaya gitu, katanya dia pengen seperti keluarga orang Indonesia kebanyakan tetap bersama anak-anaknya...yah minimal ada di satu rumah dan jauh dari panti jompo. Saya malah sempet merayu dia, "Kita kan bisa senang-senang yang...dugem bersama nini-nini dan aki-aki sesama panti jompo."
Ah saya memang selalu punya pikiran ekstrim dalam menikmati hidup sedangkan pacar saya berpikir ekstrim hanya tentang Tuhan...Tapi bener deh, belakangan saya jadi ngga takut untuk membayangkan hidup di panti jompo. Yah sesama orang tua harus berteman dengan orang tua. Ketimbang dipindah dari rumah anak yang satu ke anak yang lain. Itu lebih ironis lagi.
Saya malah berpikir, nanti kalau sudah tua ya jadi traveler aja. Mengunjungi kota yang satu ke kota yang lain. Berduaan dengan suami dan ciuman di bawah matahari senja atau di bawah bintang-bintang malam...itu kan lebih indah. Ketimbang ngebayangin hari tua cuman tidur-tiduran atau baca koran sambil duduk depan pekarangan rumah. Iya kalau ada pekarangannya kalau ngga ada?
Ah jika saya tua nanti, saya mau menikmati hiduplah. Berpetualang kaya Frederiksen di film Up...siapa bilang tua itu menyeramkan? Itu adalah waktunya matahari memberikan kesan terindah pada dunia :D
Sebab gua terinspirasi dengan cerita Athied soal maminya yang selalu tidak mau ngerepotin anaknya. Maminya Athied malah sudah siap sedia untuk itu, karena katanya dia akan lebih pusing kalau harus merasa ngerepotin anak-anaknya. Toh setiap anak ketika sudah berumah tangga pasti punya masalah sendiri.
Tapi pacar saya serem bayangin kaya gitu, katanya dia pengen seperti keluarga orang Indonesia kebanyakan tetap bersama anak-anaknya...yah minimal ada di satu rumah dan jauh dari panti jompo. Saya malah sempet merayu dia, "Kita kan bisa senang-senang yang...dugem bersama nini-nini dan aki-aki sesama panti jompo."
Ah saya memang selalu punya pikiran ekstrim dalam menikmati hidup sedangkan pacar saya berpikir ekstrim hanya tentang Tuhan...Tapi bener deh, belakangan saya jadi ngga takut untuk membayangkan hidup di panti jompo. Yah sesama orang tua harus berteman dengan orang tua. Ketimbang dipindah dari rumah anak yang satu ke anak yang lain. Itu lebih ironis lagi.
Saya malah berpikir, nanti kalau sudah tua ya jadi traveler aja. Mengunjungi kota yang satu ke kota yang lain. Berduaan dengan suami dan ciuman di bawah matahari senja atau di bawah bintang-bintang malam...itu kan lebih indah. Ketimbang ngebayangin hari tua cuman tidur-tiduran atau baca koran sambil duduk depan pekarangan rumah. Iya kalau ada pekarangannya kalau ngga ada?
Ah jika saya tua nanti, saya mau menikmati hiduplah. Berpetualang kaya Frederiksen di film Up...siapa bilang tua itu menyeramkan? Itu adalah waktunya matahari memberikan kesan terindah pada dunia :D
Subscribe to:
Posts (Atom)