Sunday, November 29, 2009

Simbol Ketulusan

Hari ini saya, bermain ke museum bersama taman belajar RUMAH SENYUMPAGI yang diasuh oleh Ika Krismantari dan suaminya, Kelik Wicaksono. Pasangan unik yang selalu tertawa, saya hampir ngga pernah liat pasangan ini cemberut-cemberutan.

Awalnya saya kenal Ika, dan saya percaya tidak ada sebuah kebetulan dalam hidup termasuk ketika Summer Academy 2008 InWEnt mempertemukan saya dengan perempuan berambut ikal ini. Awalnya kami hanya catting di YM untuk mengakrabkan diri. Sebelumnya saya beberapa kali mendengar cerita tentang dia dari pacar saya. Ini kemudian membuat saya membaca blognya diam-diam :D



Perbincangan awal kami adalah pada saat perjalanan ke Jerman, di dalam pesawat KLM, selama kurang lebih 14 jam! Entah kenapa saya merasa ingin bercerita banyak hal dengan istrinya Kelik ini, mungkin saya merasa "berhutang" karena sudah membaca cerita hidupnya sebelum kenal langsung dengannya di blognya.

Setelah itu, kita seperti bunyi tutup botol ketika dibuka, KLIK. Iya...kita nge-klik aja. Setiap malam kami tertawa-tawa di kamar dalam bahasa Indonesia selama di Hamburg. Cerita mengenai agama, perjalanan percintaan, sampai fantasi seksual wakakakaka...Fantasi...kayanya....kikikikikik.

Saya merasa sangat beruntung sekali, Sang Pengatur Cerita, mempertemukan saya dengan perempuan yang lahir 7 Desember ini. Pengalaman ke luar negeri pertama saya, benar-benar dipenuhi dengan petualangan! Belum lagi kami berdua mengalami kejadian yang menyeramkan akibat mabuk-mabukan di Berlin. Ya senasib dan sepenanggungan lah :D

Sedangkan untuk Mas Kelik, yang saya tahu dia sangat cinta dan romantis kepada Ika. Saya ingat betul, saat menjemput kami di Bandara Soekarno-Hatta, Mas Kelik membawa seikat bunga yang sangat cantik. Dan ketika mama saya senyum-senyum melihat dirinya memberikan bunga kepada istrinya, Mas Kelik hanya berucap, "Aku malu tadi ngasih liat ke tante, makanya tak umpetin..." Oooooo Mas Kelik, kau mencuri hatiku...loh kok :D

Semenjak perjalanan di Eropa, saya dan ika semakin dekat. Saya sayang sekali dengan dia karena dia begitu tulus ketika berteman. Sampai akhirnya dia bercerita dia punya taman belajar di rumahnya, Rumah Senyumpagi. "Karena anak-anak sering main ke rumahku, akhirnya aku bikin kelas aja. Kelas bahasa Inggris, dari pada cuman main-main doang." Begitu Ika bercerita melalui YM kepada saya. Ekspresi saya, "Wah Ika kamu baik banget."

"Kalau aku jadi anak-anak itu, pasti kamu akan jadi icon guru bahasa inggris yang cantik dan baik hati," komentar saya sambil disertai tanda senyum di YM. Dan kami pun tertawa bersama. Alhasil saya sering mendengar cerita tentang taman belajar Rumah Senyumpagi. Baik dari cerita Ika langsung atau melalui statusnya di FB. Saya iri, saya ingin menjadi muridnya Ika :D

Akhirnya dengan tanpa perencanaan, saya dan pacar saya mengunjungi Rumah Senyumpagi. Dengan bermodalkan panduan via SMS, kami pun sampai di rumah yang sangat nyaman. Saya duduk di antara anak-anak, maklum niat saya kan mau jadi muridnya Miss Ika dan Mas Kelik. Dan ada satu anak kecil yang mencuri hati saya, entah mengapa Nisa menatap saya dengan terpesona. Mungkin karena rambut saya seperti megalowoman :D

Belum lagi salah satu anak yang dengan lugu menyarankan Ika agar banyak makan garam, biar bisa hamil...hihihihiiihi. Anak-anak memang punya privilege untuk menjaga originalitas ekspresinya. Kenapa setelah besar kita jadi jaim ya?

Kunjungan impulsif ini bikin saya ingin bercengkrama lagi dengan anak-anak luar biasa itu. Dan ketika mendengar Ika akan mengajak mereka ke museum, saya berjanji untuk datang. Rasanya luar biasa, melihat tour guide keren bercerita dengan lugas tentang benda-benda bersejarah. Lugas, karena sang tour guide tidak seperti tour guide kebanyakan yang kaku dan pegawai negeri bangetlah. Tour guide yang ini trendi, pake kemeja kotak-kotak dengan syal melilit di lehernya. Saya kalau jadi anak-anak itu pasti naksir sama Mas Kelik, abis keren banget sih (gaya abg mode on).

Dan hari ini, saya lagi-lagi terpesona apa yang pasangan ini lakukan. Mereka bahkan sampai menyewa bis yang sangat nyaman untuk mengantarkan 18 anak dari Pondok Cabe sampai Museum Gajah. Dan anak-anak merasa sangat antusias mengisi titik-titik di kertas kuis yang mereka sediakan. Seingat saya dulu, setiap kali dikasih soal pas mengunjungi museum saya merasa biasa aja. Karena ya itu, tour guidenya bapa-bapa berseragam cokelat :D

Melihat bagaimana pasangan ini membagikan waktunya bersama anak-anak yang awalnya gemar mampir ke rumah mereka, rasanya luar biasa untuk bisa memiliki keinginan berbagi seperti mereka. Menangkap setiap ekspresi yang dilontarkan bebas tanpa dibatasi, beruntungnya anak-anak itu mengenal dua sosok orang dewasa yang mengajarkan keutuhan untuk menjadi diri sendiri.

Ah mereka berdua memang simbol ketulusan yang hidup yang saya temui dan nikmati. Keterbukaan mereka terhadap berbagi itu indah tidak hanya terbukti pada hubungan perteman yang belum lama saya jalani dengan mereka, tapi juga terlihat nyata melalui interaksi miss, mas, dengan anak-anaknya.

Cobalah berkunjung ke rumah Senyumpagi. Temukan seorang perempuan yang sangat mencintai hidup tengah duduk di depan pintu rumahnya yang bermodalkan whiteboard dan spidol, menulis tentang bahasa inggris yang sederhana. Tidak perlu menjadi yang terhebat di kelas ini karena Miss-nya masih suka lupa bahasa inggris dari sebuah kata dan mencarinya di dalam kamus di depan anak-anaknya.

Setelah belajar tanpa tekanan, giliran Mas-nya menciptakan permainan. Bisa jadi permainannya origami, hang man, atau ular tangga, yang pasti permainan sederhana yang membuat kita penasaran dan tertawa. Di akhir pelajaran, anak-anak akan diberi choki-choki yang didapat setelah mengantri dengan rapi. Belum puas bermain di rumah Senyumpagi, tenang saja Miss Ika dan Mas Kelik masih bisa dipanggil setiap kali kita melintasi depan rumahnya. Seperti anak-anak itu yang tidak bosan mengajak mereka bermain, "Miss besok olahraga pagi yuk." Atau, "Miss mau main dong."

Dear Ika dan Mas Kelik, makasih ya untuk pembelajaran tanpa hentinya. Taman belajar Rumah Senyumpagi selalu memberikan candu kepada saya untuk selalu datang, datang, dan bermain. Love you both so much :D

Tuesday, November 17, 2009

Merealisasikan 28

Hari ini Sang Pemilik Kehidupan memberikan kepercayaan kepada saya untuk memasuki ke-28 tahun hidup di dunia. Mari mendalami usia ini.

Sewaktu saya masih remaja, saya menggambarkan di usia ini saya akan menikah. Mengapa? Karena saya memprediksikan karir saya sudah lebih enak. Enak buat saya dan keluarga. Ya ini ada benernya.

Disamping itu, saya juga menyakini secara psikologis saya siap. Entah dari mana ketika itu saya bisa dapat keyakinan sedemikian bulat.

Kenyataannya....
Beberapa hari menjelang pertambahan usia, saya jadi gampang marah dan semakin egois. Ntah apa ini memang buah perjalanan karir yang lebih enak. Karena tanggung jawabnya makin besar, tingkat stres saya juga makin tinggi. Tapi saya bersyukur, amat bersykur bahkan. Karena Sahabat Kehidupan saya memberikan kepercayaan untuk masuk dalam kenaikan tanggung jawab. Saya percaya apa yang dipercayakan Dia adalah yang paling baik yang saya bisa lakukan.

Selain gampang marah, saya semakin egois. Tanya saja pacar saya, dia bertubi-tubi dapat "serangan" keegoisan saya (Maaf ya sayang). Apa ini namanya kematangan psikologis, rasanya tidak juga.

Beberapa jam lalu, saya cerita dengan seorang sahabat saya yang lama sekali tidak bertemu. Saya bilang, saya merasa aneh ketika beradu argumen dengan teman-teman lain. Saya merasa asing. Saya percaya, people do change tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa perubahaan itu membuat kita merasa kikuk ketika berhadapan dengan mereka yang lama kita kenal tapi dengan perbedaan pemikiran. Iya, saya menjadi tidak adil jika memaksa semua orang untuk berubah ke gelombang yang sama dengan perubahaan saya. Itu mengapa, saya memilih saya yang merasa asing.

Lalu saya bertanya kepada sahabat saya itu, apa saya yang masih menjadi alien sementara yang lain sudah jadi manusia :D Teman saya menjawab, interaksi kita sudah beda jadi outputnya juga beda. Ya apa yang teman saya katakan benar, tapi saya masih bertanya, mengapa saya berubah terlalu cepat? Teman saya itu bilang lagi, semuanya masalah pengertian. Kalau kita mengerti telah terjadi sebuah perubahan pada masing-masing orang, lebih baik menganggap perbedaan itu sebagai kondisi sekarang yang diterima dengan porsi yang pas.

Iya porsi yang pas dengan mengerti ketika jalur perubahan kita terlalu cepat, lebih baik memancing pembicaraan yang umum-umum saja. Biar tidak ada yang tersakiti atau disakiti dengan kesadaran people do change.

Mungkin kecenderungan egois saya yang tinggi muncul karena saya merasa sendirian. Tidak banyak pendamping pikiran-pikiran gila saya. Semuanya berjalan sesuai aturan, sedangkan saya masih jatuh cinta dengan ketidaknormalan. Alhasil saya merasa butuh menyuarakan keinginan saya dengan berlebih agar semua orang mendengar ketidaknormalan saya dan memahaminya sebagai kewajaran. Entahlah saya sedang egois memang.

Tapi saya bersyukur, setidaknya saya bisa merasakan fluktuasi emosi yang melelahkan. Ini membuat saya ingin keluar dari kekacauan emosi dan keegoisan ini dengan cepat.

Lagi-lagi saya butuh keluar dari kepompong saya. Saya butuh menegaskan diri sebagai sesuatu di luar garis. Saya harus menjadi asing karena proses metamorfosis mengantarkan saya pada itu.

Tapi saya juga menyadari, bahwa kebutuhan menjadi asing ini seharusnya tidak membuat kekasih saya terzalimi berkali-kali. Saya hanya ingin kita menjadi asing bersama-sama. Saya takut dia saya temukan menjadi sosok yang tidak saya kenal. Dengan cara yang salah, saya coba menyadarkan dia dengan "memaksa" dia mendengarkan saya. Karena saya ingin, kita tetap pada atmosfer cinta yang sama ketika memutuskan untuk menjalani hubungan. Saya tidak mau hubungan saya yang ini berubah menjadi sesuatu yang pragmatis. Karena sudah biasa jadi tidak perlu manis-manisan atau manja-manjaan lagi. Saya ingin tetap deg-degan ketika dibonceng dia dengan supra fit.

Ya saya takut menjadi pragmatis. Saya ingin tetap hidup dengan keliaran berpikir saya. Aku berharap kamu tetep temenin aku yang. Karena ternyata, semakin kita tua kita menjadi seragam. Dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan buat aku.

Ah umur 28 itu ternyata butuh banyak pengertian dan kesabaran. Di umur ini, lingkungan kita jadi linear. Pilihannya ditarik garis lurus itu atau menarik garis ke luar kertas. Saya sih inginnya yang kedua. Saya percaya menjadi dinamis lebih aduhai ketimbang sekedar jalan tanpa tau kenapa harus jalan. Bila kemudian ini diartikan sebagai egoisme karena tidak mau bertoleransi dengan keseragaman ya saya telan saja bulat-bulat. Toh dulu saya juga dibilang demikian saya memilih keluar dari kewajaran.

Semoga metamorfosis ini akan lebih kuat saya jalanin karena usia 28 itu dasar dari kematangan proses hidup. Jika saya sukses merealisasikannya maka saya tinggal memoles proses saya menjadi istri, ibu, dan nenek dari masa depan saya.

Ayo kupu-kupu, sudah habis waktunya menjadi kepompong. Robek kepompongnya dan lebarkan sayap, karena keliaraan itu ada di luar selubung hitam yang menyesakkan. Selamat memasuki proses baru dan selamat menikmati hidup :D

Wednesday, November 11, 2009

Fluktuasi Emosi

Entah apa yang terjadi, tapi beberapa waktu ini saya mudah sekali tersinggung dan ingin sekali diperhatikan...Tidak seperti ini harusnya saya mengisi hari...melelahkan dan menyakiti hati orang terkasih...

Ayo kupu-kupu berhentilah menyakiti diri...metamorfosis terlalu mahal jika hanya diisi dengan menghantam diri dan sekitar. Really need vacation

Sunday, November 8, 2009

3 Tahun Kebersamaan

6 November lalu, saya dan pacar merayakan komitmen kebersamaan.Hmmmm....komitmen kebersamaan, dulu pas mengawalinya, modal saya hanya rasa suka karena enak diajak ngomong dan pintar. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa suka saya berubah jadi nyaman.

Saya bisa jadi anak kecil yang super manja setiap kali bersama dia. Benar-benar berusaha untuk membuat dia hanya memperhatikan saya. Rasa nyaman juga membuat saya tenang setiap kali bergandengan atau berpelukan dengan dia. Bahkan setiap kali kami akan berpisah, saya selalu menyelipkan doa dalam hati, meminta Pemilik Cinta untuk mengijikan kami menikmati rasa ini selamanya.

Meski berjalan lumayan lama, kami masih berbeda pendapat dalam beberapa hal. Saya termasuk orang yang cuek dan santai dalam menjalani hidup. Sedangkan pacar saya, sangat serius dan mendalami semua rutinitas dengan kening berkerut. Kadang-kadang sih saya berpikir, apa pacar saya ngga cape mikir ribet begitu? Tapi tidak jarang juga saya mengagumi pikirannya yang filosofis.

Kalau soal kesamaan, ntah bagaimana menjelaskannya secara detail, tapi saya percaya kita berdua punya passion atas apa yang kita jalanin. Itu kenapa, selalu menyenangkan untuk berbagi cerita dan "pikiran" liar bersama dia. Alhasil rasa cinta kami semakin dalam dan ini semua menyenangkan.

Kami juga sadar, pembatasan sosial atas identitas yang kami punya menjadi "kerikil" besar dalam perjalanan kebersamaan kami. Tapi kami punya keyakinan, rasa ini tulus yang kemudian membuat kami memberanikan diri untuk fight for it. Dengan mengirim beribu doa dan pengertian pada orang-orang sekitar, saya yakin semuanya akan bisa dilalui dengan segala keyakinan serta risiko yang siap diterima.

Saya hanya meminta, kami bisa berbagi hidup selamanya. Dia menjadi rekan hidup saya dan saya menjadi rekan hidupnya. Dia memenuhi gelas kasih eros saya dan saya melakukan hal yang sama dengan senang hati :D

Makasih ya sayang, buat kebersamaan ini. Kalau memperingati komitmen berpacaran saja begitu bikin kita deg-degan, pasti lebih enak kalau kita bisa memperbesar rasanya dengan komitmen hidup bersama. Karena itu, yuk kita tetap menyakini apa yang kita punya karena hanya keyakinanlah yang bisa mengantarkan alam untuk mendukung segala impian kita. Sayang kamu banget dan miss you already everytime.God bless you sayang :D

Sunday, November 1, 2009

Mengugat Identitas

Saya sedang marah,

Marah karena ternyata kita terlalu sering menilai seseorang atau lebih tepatnya menyimplikasi seseorang dari identitas yang melekat. Mulai dari apakah dia perempuan, laki-laki, suku, ras, hingga agama.

Buat saya, individu itu adalah esensi utuh yang tidak bisa hanya dirunut dalam kategori tersebut. Mungkin ngga ya, seseorang dari lahir sampai mati menggenapi hari-harinya tanpa harus dibatasi dengan identitas. Cukup disebut sebagai, ya ini Priska yang keras kepala dan punya keyakinan kuat atas apapun yang dipilihnya. Tanpa kemudian diperjelas menjadi, Priska yang anak perempuan satu-satunya dari keluarga batak yang patrilineal dan kristen itu, keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan apa yang dikatakan sekitarnya.

Ah saya sedang menggugat sistem sosial yang menyerhanakan proses manusia dalam beberapa penggalan stigmasasi. Saya butuh, orang melihat saya lebih lebar dari pada sekedar pengabdian pada keluarga, negara, dan agama. Karena identitas yang sederhana itu semuanya merujuk pada "pembayaran hutang" karena telah diklasifikasikan dalam tiga hal tersebut.

Ini unek-unek mendekati hari saya menjadi hidup...padahal biasanya saya merayakannya dengan ritual kontemplasi yang menyejukkan jiwa...tapi kok ya sekarang saya justru mengisi hari dengan marah-marah ya...Jangan-jangan ada yang membaca blog ini dan berujar, "Ngga bersyukur bener nih orang."

Well saya mensyukuri banyak hal, termasuk ketika saya tidak puas dengan tuntutan sosial seperti sekarang ini. Ah Tuhan, kenapa sih, Kau tidak membisikkan kepada telinga setiap manusia, bahwa ciptaanmu terlalu kompleks untuk hanya diartikan sebagai pengabdi keluarga, negara, dan agama. Saya sedang menumpuk keberanian untuk melawan itu semua, tolong bantu saya ya pencipta kehidupan.

Saturday, October 31, 2009

Perkenalan

Akhirnya hari ini datang juga, sang kekasih berkenalan dengan mamaku. Entah apa yang dirasakan pacar saya, tapi saya sudah mulai deg-degan sejak dua hari lalu. Tapi saya juga percaya, kesayangan saya bisa menghadapinya dengan baik.

Hasilnya....

Siang tadi, tepat di hari hallowen mulai jadi komersil di jakarta, saya mengajak mama dan inang tua makan di restoran bernuansa sunda yang berlokasi di Sarinah. Awalnya, pacar saya memilih tempat yang bertempat duduk tapi akhirnya kami berpindah ke yang lesehan.

Sesi memilih makanan menjadi lebih santai dan diselingin tawa, karena beberapa makanan tidak ada jadi kami memilih untuk membuat pernyataan-pernyataan lucu agar suasana lebih kondusif :D Saat makan pun berjalan relaks, karena ada sesi tanya-jawab soal bagaimana makanan kita.

Tapi agendanya bukan itu, setidaknya itu yang saya yakini ketika dari tahun kemarin, mama mengajak saya untuk bertemu dengan pacar saya. Selesai mama makan, tidak tunggu makanan dicerna halus oleh sistem pencernaan, mama mengajukan pertanyaan serius. Dan bola-bola pertanyaan serius pun semakin membulat. Saya sendiri ingin sekali rasanya memeluk pacar saya untuk membisikkan, sabar ya sayang pertanyaannya emang frontal.

Tapi pacar saya sangat tenang, dia bahkan beberapa kali menempatkan dirinya pada posisi mama saya. Dia beberapa kali mengamini dan merespon pernyataan-pernyataan yang menekan dengan bahasa yang halus serta tenang. Saya menangkap mama melakukan kontak mata kepada pacar saya ketika meluncurkan pertanyaan "misinya". Dan lagi-lagi, pacar saya tidak mengimbanginya dengan frontal tapi justru mengerti serta berharap adanya pengertian.

Ada kejadian lucu sebenarnya, ketika mama bilang bahwa restu orang tua itu paling esensi dalam suatu pernikahan. Mama meminta pendapat inang tua, tapi inang tua justru tidak mengamininya. Karena perjalanan hidupnya cukup mengantarkan dia pada esensi kehidupan yang lain. Ada rasa lega sebenarnya, sebab inang tua benar-benar menempatkan diri pada peran mediator. Tidak memihak hanya memberikan pendapat dan pengertian dari pengalaman yang dia ketahui. Reaksi inang tua yang jujur inilah yang kemudian saya twist menjadi pencair suasana. Berharap mama bisa mengerti bahwa definisi kebahagiaan dan restu orang tua tidak selamanya berjalan linear.

"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan, tapi kita menjalaninya dengan keyakinan," inang tua sempat menimpali seperti itu. Dan pacar saya pun mengambil momen itu dengan kembali menegaskan keyakinan apa yang kami punya.

Saya ingat, menaruh tangan saya di paha pacar saya. Berharap dia bisa tahu, saya akan membantu dia dan memohon dia untuk tidak merasa dipojokkan. Tapi selain menenangkan dia, saya juga melakukan hal itu untuk menenangkan diri saya sendiri karena ada beberapa pernyataan mama yang seharusnya tidak terucap. Yah well, lagi-lagi saya disadarkan oleh pacar saya, reaksi mama adalah reaksi yang wajar diberikan seorang ibu terhadap niatan anak perempuan satu-satunya untuk memilih pasangan hidup yang berbeda agama.

Tapi pada akhirnya, saya merasa, pertemuan ini adalah awal yang baik. Karena pacar saya sempat memberikan pernyataan penutup, yang intinya berterima kasih pada mama dan inang tua yang mau menemui kami berdua. "Setidaknya saya jadi mengerti situasinya seperti apa," ucapnya dengan lembut tadi.

Ah Tuhan, mengapa sih kau biarkan umatmu menjadi ribet dengan perbedaan agama dan kesukuan. Dan mengapa harus ada terminologi, satu kapal itu harus satu nahkoda. Apa sih kepala rumah tangga itu? Toh pada prakteknya, tidak semua keputusan secara bulat diambil dan dilakukan secara utuh oleh kepala keluarga kan (baca : laki-laki). Bukankah hidup berumah tangga sebenarnya adalah esensi dari berbagi. Berbagi tanggung jawab, berbagi rasa sayang, berbagi mimpi. Tidak ada kan yang semuanya dilakukan ansich secara sendiri. Punya anak aja mesti berdua, lalu kenapa harus selalu membatasi diri dengan siapa harus menentukan apa dalam rumah tangga. Dan penentuan agama apa yang ada dalam rumah tangga, kemudian menjadi lebih aman atau mudah ketika pasangan mengayuh ke satu perairan keagamaan yang sama.

Ini sebenarnya memaksakan prinsip ketuhanan dalam berumahtangga dan bercinta. Apa iya, rumah tangga yang bertuhan sama menjadi jaminan tidak akan ada masalah. Menjadi jalan keluar yang paling benar untuk membentuk karakter anak yang mumpuni? Sepertinya semua proses tidak berjalan dengan selinier itu kan?

Adakah cara untuk membuat kedua orang tua kami mengerti? Kalau bagi mama saya, orang tua akan bahagia dan mengerti ketika kami kemudian menjadi satu keyakinan. Entah mengapa saya jadi malas mengulik tentang keyakinan. Saya jadi merasa semua orang berhak mendefinisikan kebahagiaan buat saya, tapi saya tidak berhak mendefinisikan kebahagiaan saya. Semakin besar, saya semakin benci dengan keberadaan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga yang patriakal.

Terima kasih ya Sang Empunya Kehidupan, untuk memberikan pacar saya ketenangan dan kemampuan untuk menjawab semua pertanyaan. Setidaknya kami berani menghadapi tantangan hari ini, setidaknya kami berani berbicara mengenai keyakinan kami untuk berbagi hidup. Saya percaya setiap usaha akan memberikan hasil dan saya lebih percaya, apapun hasilnya itu adalah yang terbaik bagi kami. Ketika Kau memercayai kami melalui tantangan hari ini, saya percaya kami akan bisa lebih kuat lagi memasuki proses sebelumnya.

Bantu kami untuk menemukan keyakinan yang sama pada keluarga kami. Bantu kami untuk bisa menunjukkan kepada mereka, bahwa rasa sayang yang kami punya lahir dari keimanan kami menikmati serta berbagi hidup. Tolonglah percaya pada kami, hanya itu yang kami minta.

Sunday, October 25, 2009

In a deep sorrow

This is an official statement from the owner of the blog :

We are in the deepest sorrow, because the butterfly was asked to limited her own expression.