Wednesday, November 11, 2009

Fluktuasi Emosi

Entah apa yang terjadi, tapi beberapa waktu ini saya mudah sekali tersinggung dan ingin sekali diperhatikan...Tidak seperti ini harusnya saya mengisi hari...melelahkan dan menyakiti hati orang terkasih...

Ayo kupu-kupu berhentilah menyakiti diri...metamorfosis terlalu mahal jika hanya diisi dengan menghantam diri dan sekitar. Really need vacation

Sunday, November 8, 2009

3 Tahun Kebersamaan

6 November lalu, saya dan pacar merayakan komitmen kebersamaan.Hmmmm....komitmen kebersamaan, dulu pas mengawalinya, modal saya hanya rasa suka karena enak diajak ngomong dan pintar. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa suka saya berubah jadi nyaman.

Saya bisa jadi anak kecil yang super manja setiap kali bersama dia. Benar-benar berusaha untuk membuat dia hanya memperhatikan saya. Rasa nyaman juga membuat saya tenang setiap kali bergandengan atau berpelukan dengan dia. Bahkan setiap kali kami akan berpisah, saya selalu menyelipkan doa dalam hati, meminta Pemilik Cinta untuk mengijikan kami menikmati rasa ini selamanya.

Meski berjalan lumayan lama, kami masih berbeda pendapat dalam beberapa hal. Saya termasuk orang yang cuek dan santai dalam menjalani hidup. Sedangkan pacar saya, sangat serius dan mendalami semua rutinitas dengan kening berkerut. Kadang-kadang sih saya berpikir, apa pacar saya ngga cape mikir ribet begitu? Tapi tidak jarang juga saya mengagumi pikirannya yang filosofis.

Kalau soal kesamaan, ntah bagaimana menjelaskannya secara detail, tapi saya percaya kita berdua punya passion atas apa yang kita jalanin. Itu kenapa, selalu menyenangkan untuk berbagi cerita dan "pikiran" liar bersama dia. Alhasil rasa cinta kami semakin dalam dan ini semua menyenangkan.

Kami juga sadar, pembatasan sosial atas identitas yang kami punya menjadi "kerikil" besar dalam perjalanan kebersamaan kami. Tapi kami punya keyakinan, rasa ini tulus yang kemudian membuat kami memberanikan diri untuk fight for it. Dengan mengirim beribu doa dan pengertian pada orang-orang sekitar, saya yakin semuanya akan bisa dilalui dengan segala keyakinan serta risiko yang siap diterima.

Saya hanya meminta, kami bisa berbagi hidup selamanya. Dia menjadi rekan hidup saya dan saya menjadi rekan hidupnya. Dia memenuhi gelas kasih eros saya dan saya melakukan hal yang sama dengan senang hati :D

Makasih ya sayang, buat kebersamaan ini. Kalau memperingati komitmen berpacaran saja begitu bikin kita deg-degan, pasti lebih enak kalau kita bisa memperbesar rasanya dengan komitmen hidup bersama. Karena itu, yuk kita tetap menyakini apa yang kita punya karena hanya keyakinanlah yang bisa mengantarkan alam untuk mendukung segala impian kita. Sayang kamu banget dan miss you already everytime.God bless you sayang :D

Sunday, November 1, 2009

Mengugat Identitas

Saya sedang marah,

Marah karena ternyata kita terlalu sering menilai seseorang atau lebih tepatnya menyimplikasi seseorang dari identitas yang melekat. Mulai dari apakah dia perempuan, laki-laki, suku, ras, hingga agama.

Buat saya, individu itu adalah esensi utuh yang tidak bisa hanya dirunut dalam kategori tersebut. Mungkin ngga ya, seseorang dari lahir sampai mati menggenapi hari-harinya tanpa harus dibatasi dengan identitas. Cukup disebut sebagai, ya ini Priska yang keras kepala dan punya keyakinan kuat atas apapun yang dipilihnya. Tanpa kemudian diperjelas menjadi, Priska yang anak perempuan satu-satunya dari keluarga batak yang patrilineal dan kristen itu, keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan apa yang dikatakan sekitarnya.

Ah saya sedang menggugat sistem sosial yang menyerhanakan proses manusia dalam beberapa penggalan stigmasasi. Saya butuh, orang melihat saya lebih lebar dari pada sekedar pengabdian pada keluarga, negara, dan agama. Karena identitas yang sederhana itu semuanya merujuk pada "pembayaran hutang" karena telah diklasifikasikan dalam tiga hal tersebut.

Ini unek-unek mendekati hari saya menjadi hidup...padahal biasanya saya merayakannya dengan ritual kontemplasi yang menyejukkan jiwa...tapi kok ya sekarang saya justru mengisi hari dengan marah-marah ya...Jangan-jangan ada yang membaca blog ini dan berujar, "Ngga bersyukur bener nih orang."

Well saya mensyukuri banyak hal, termasuk ketika saya tidak puas dengan tuntutan sosial seperti sekarang ini. Ah Tuhan, kenapa sih, Kau tidak membisikkan kepada telinga setiap manusia, bahwa ciptaanmu terlalu kompleks untuk hanya diartikan sebagai pengabdi keluarga, negara, dan agama. Saya sedang menumpuk keberanian untuk melawan itu semua, tolong bantu saya ya pencipta kehidupan.

Saturday, October 31, 2009

Perkenalan

Akhirnya hari ini datang juga, sang kekasih berkenalan dengan mamaku. Entah apa yang dirasakan pacar saya, tapi saya sudah mulai deg-degan sejak dua hari lalu. Tapi saya juga percaya, kesayangan saya bisa menghadapinya dengan baik.

Hasilnya....

Siang tadi, tepat di hari hallowen mulai jadi komersil di jakarta, saya mengajak mama dan inang tua makan di restoran bernuansa sunda yang berlokasi di Sarinah. Awalnya, pacar saya memilih tempat yang bertempat duduk tapi akhirnya kami berpindah ke yang lesehan.

Sesi memilih makanan menjadi lebih santai dan diselingin tawa, karena beberapa makanan tidak ada jadi kami memilih untuk membuat pernyataan-pernyataan lucu agar suasana lebih kondusif :D Saat makan pun berjalan relaks, karena ada sesi tanya-jawab soal bagaimana makanan kita.

Tapi agendanya bukan itu, setidaknya itu yang saya yakini ketika dari tahun kemarin, mama mengajak saya untuk bertemu dengan pacar saya. Selesai mama makan, tidak tunggu makanan dicerna halus oleh sistem pencernaan, mama mengajukan pertanyaan serius. Dan bola-bola pertanyaan serius pun semakin membulat. Saya sendiri ingin sekali rasanya memeluk pacar saya untuk membisikkan, sabar ya sayang pertanyaannya emang frontal.

Tapi pacar saya sangat tenang, dia bahkan beberapa kali menempatkan dirinya pada posisi mama saya. Dia beberapa kali mengamini dan merespon pernyataan-pernyataan yang menekan dengan bahasa yang halus serta tenang. Saya menangkap mama melakukan kontak mata kepada pacar saya ketika meluncurkan pertanyaan "misinya". Dan lagi-lagi, pacar saya tidak mengimbanginya dengan frontal tapi justru mengerti serta berharap adanya pengertian.

Ada kejadian lucu sebenarnya, ketika mama bilang bahwa restu orang tua itu paling esensi dalam suatu pernikahan. Mama meminta pendapat inang tua, tapi inang tua justru tidak mengamininya. Karena perjalanan hidupnya cukup mengantarkan dia pada esensi kehidupan yang lain. Ada rasa lega sebenarnya, sebab inang tua benar-benar menempatkan diri pada peran mediator. Tidak memihak hanya memberikan pendapat dan pengertian dari pengalaman yang dia ketahui. Reaksi inang tua yang jujur inilah yang kemudian saya twist menjadi pencair suasana. Berharap mama bisa mengerti bahwa definisi kebahagiaan dan restu orang tua tidak selamanya berjalan linear.

"Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan, tapi kita menjalaninya dengan keyakinan," inang tua sempat menimpali seperti itu. Dan pacar saya pun mengambil momen itu dengan kembali menegaskan keyakinan apa yang kami punya.

Saya ingat, menaruh tangan saya di paha pacar saya. Berharap dia bisa tahu, saya akan membantu dia dan memohon dia untuk tidak merasa dipojokkan. Tapi selain menenangkan dia, saya juga melakukan hal itu untuk menenangkan diri saya sendiri karena ada beberapa pernyataan mama yang seharusnya tidak terucap. Yah well, lagi-lagi saya disadarkan oleh pacar saya, reaksi mama adalah reaksi yang wajar diberikan seorang ibu terhadap niatan anak perempuan satu-satunya untuk memilih pasangan hidup yang berbeda agama.

Tapi pada akhirnya, saya merasa, pertemuan ini adalah awal yang baik. Karena pacar saya sempat memberikan pernyataan penutup, yang intinya berterima kasih pada mama dan inang tua yang mau menemui kami berdua. "Setidaknya saya jadi mengerti situasinya seperti apa," ucapnya dengan lembut tadi.

Ah Tuhan, mengapa sih kau biarkan umatmu menjadi ribet dengan perbedaan agama dan kesukuan. Dan mengapa harus ada terminologi, satu kapal itu harus satu nahkoda. Apa sih kepala rumah tangga itu? Toh pada prakteknya, tidak semua keputusan secara bulat diambil dan dilakukan secara utuh oleh kepala keluarga kan (baca : laki-laki). Bukankah hidup berumah tangga sebenarnya adalah esensi dari berbagi. Berbagi tanggung jawab, berbagi rasa sayang, berbagi mimpi. Tidak ada kan yang semuanya dilakukan ansich secara sendiri. Punya anak aja mesti berdua, lalu kenapa harus selalu membatasi diri dengan siapa harus menentukan apa dalam rumah tangga. Dan penentuan agama apa yang ada dalam rumah tangga, kemudian menjadi lebih aman atau mudah ketika pasangan mengayuh ke satu perairan keagamaan yang sama.

Ini sebenarnya memaksakan prinsip ketuhanan dalam berumahtangga dan bercinta. Apa iya, rumah tangga yang bertuhan sama menjadi jaminan tidak akan ada masalah. Menjadi jalan keluar yang paling benar untuk membentuk karakter anak yang mumpuni? Sepertinya semua proses tidak berjalan dengan selinier itu kan?

Adakah cara untuk membuat kedua orang tua kami mengerti? Kalau bagi mama saya, orang tua akan bahagia dan mengerti ketika kami kemudian menjadi satu keyakinan. Entah mengapa saya jadi malas mengulik tentang keyakinan. Saya jadi merasa semua orang berhak mendefinisikan kebahagiaan buat saya, tapi saya tidak berhak mendefinisikan kebahagiaan saya. Semakin besar, saya semakin benci dengan keberadaan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga yang patriakal.

Terima kasih ya Sang Empunya Kehidupan, untuk memberikan pacar saya ketenangan dan kemampuan untuk menjawab semua pertanyaan. Setidaknya kami berani menghadapi tantangan hari ini, setidaknya kami berani berbicara mengenai keyakinan kami untuk berbagi hidup. Saya percaya setiap usaha akan memberikan hasil dan saya lebih percaya, apapun hasilnya itu adalah yang terbaik bagi kami. Ketika Kau memercayai kami melalui tantangan hari ini, saya percaya kami akan bisa lebih kuat lagi memasuki proses sebelumnya.

Bantu kami untuk menemukan keyakinan yang sama pada keluarga kami. Bantu kami untuk bisa menunjukkan kepada mereka, bahwa rasa sayang yang kami punya lahir dari keimanan kami menikmati serta berbagi hidup. Tolonglah percaya pada kami, hanya itu yang kami minta.

Sunday, October 25, 2009

In a deep sorrow

This is an official statement from the owner of the blog :

We are in the deepest sorrow, because the butterfly was asked to limited her own expression.

Sunday, September 27, 2009

Panas terik yang romantik

Jalan besar yang gersang menuju RS. Internasional Bintaro itu terasa sangat menggoda roda motor Honda Supra Fit untuk melaju kencang, karena jalanannya sangat lengang. Tapi dua mahluk yang duduk di atasnya tengah berburu "spanduk" masa depan.

Sambil mengendalikan Supra Fit, sang pria berkata, "Panas ya yang, kalau lagi kaya gini ban motor kempes mantep banget dah." Si perempuan, hanya menelan ludah. Maklum panas matahari membuatnya dehidrasi lebih cepat. "Haus yang, pengen minum."

Keduanya asik memperhatikan spanduk-spanduk penawaran rumah dari developer, karena itulah laju motor sangat pelan meskipun aspal yang mulus itu banyak dilewati kendaraan dengan kencang. Saking asiknya liat spanduk, sesekali si pengendali motor tidak memerhatikan adanya polisi tidur membentang di depan mata. Jadi aksi ngerem mendadak, yang tidak disukai kekasihnya pun, diterima sebagai konsekuensi jalan di jalan baru.



Tapi tiba-tiba, pengendali motor merasa kehilangan keseimbangan karena supra fit melambat seolah tak bertenaga. Keduanya menundukkan kepala melihat ban, LUAR BIASA, ban belakang kempes hingga menempel aspal dengan sempurna. Pasang kekasih ini pun saling memandang, berjuta kata melintas di kepala tapi tidak ada yang mau keluar menjadi suara.

Si perempuan turun, sambil membuka helm. Sedangkan si pengendali motor, mengulum senyum malu-malu. "Tuh kan sayang, kata-katamu adalah doamu. Makanya jangan ngomong kempes-kempes kejadian deh," ucap si perempuan sambil menyibakkan rambutnya yang basah karena disarungi helm. Si pengendali motor tidak lagi dapat mengulum senyum, "Hahahaha...is not your lucky day honey."

Alhasil keduanya pun mengiringi putaran roda motor yang malas berputar. Di depan mata yang terlihat hanya kantor-kantor yang lengan tanpa ada tanda-tanda bengkel atau tambal ban. "Alamat bisa 2 kilometer nih neng jalannya." Si langsung berkomentar, "Psssttt...watch your words...udah kamu jangan ngomong yang macem-macem, ini aja udah luar biasa."

Sepanjang jalan melawan panas, keduanya coba mencairkan kekesalan. "Pasti mobil-mobil yang lewat pada bilang, ih pasangan itu sial bener nasibnya narik motor panas-panasan. Eh itu pacaran apa tukang ojek sama penumpang ya," si perempuan coba menyindir kekasih hatinya. "Jangan gitu neng, ini kan di luar kuasa kita hehehehehe."

Saat matahari makin terasa menyengat kulit, ada bengkel. Si perempuan merasa ini adalah pertolongan, tapi semakin dekat yang terlihat adalah bengkel mobil yang tutup. "Beautifull coincidence," grutunya dalam hati. Di depan bengkel mobil yang tutup itu duduk tiga bapak-bapak yang seolah sudah biasa melihat orang menggiring motor. "Tanya gih yang, bengkelnya ada di mana," ucap perempuan yang rambutnya kemerahan.

Si kekasih hati pun menghampiri sumber informasi berharga itu. Dari jarak 100 meter, si perempuan mengamati apa yang dibicarakan kekasih hatinya dengan bapak-bapak yang tengan duduk menikmati hari. "Wah petunjukknya kayanya jauh nih," si perempuan coba membaca bahasa isyarat yang dikeluarkan sambil mempersiapkan diri jalan jauh dengan menenggak air mineral yang ditaruh dalam plastik hitam dengan dua roti sebagai bekal.

"Tenang neng, tambal bannya ada kok...ngga jauh samping honda," si pengendali motor coba menyakinkan dengan senyuman. "Emang kamu tahu di mana hondanya?" "Kita cari sama-sama ya sayang," senyum pengendali motor semakin menyungging.

Yah, panas-panas pacaran memang penuh kejutan. Mulai keringetan, kehausan, sampai sinar matahari yang rasanya sudah di depan mata, adalah kondisi yang harus diubah menjadi kenangan manis. Pasangan ini memang akhirnya menemukan tambal ban, dua sekaligus bahkan. Tidak hanya itu, petualangan mereka tidak berhenti sekedar di tambal bal karena penjelajahan untuk membuktikan bahasa iklan developer pun menemukan jawabannya.

Semua kekesalan yang diselingi dengan banyak tawa adalah harga yang pantas untuk memburu masa depan kita sayang. Ini akan jadi cerita manis untuk keturunan kita selanjutnya, Amin :D

Sunday, August 16, 2009

Bila Kita Tua Nanti

Belakangan, saya dan pacar sering bercerita tentang hidup kita saat usia senja menghampiri. Pacar saya sih ngga mau hidup sendirian saat tua, sedangkan saya mulai berpikir ngga masalah kok di panti jompo.

Sebab gua terinspirasi dengan cerita Athied soal maminya yang selalu tidak mau ngerepotin anaknya. Maminya Athied malah sudah siap sedia untuk itu, karena katanya dia akan lebih pusing kalau harus merasa ngerepotin anak-anaknya. Toh setiap anak ketika sudah berumah tangga pasti punya masalah sendiri.

Tapi pacar saya serem bayangin kaya gitu, katanya dia pengen seperti keluarga orang Indonesia kebanyakan tetap bersama anak-anaknya...yah minimal ada di satu rumah dan jauh dari panti jompo. Saya malah sempet merayu dia, "Kita kan bisa senang-senang yang...dugem bersama nini-nini dan aki-aki sesama panti jompo."

Ah saya memang selalu punya pikiran ekstrim dalam menikmati hidup sedangkan pacar saya berpikir ekstrim hanya tentang Tuhan...Tapi bener deh, belakangan saya jadi ngga takut untuk membayangkan hidup di panti jompo. Yah sesama orang tua harus berteman dengan orang tua. Ketimbang dipindah dari rumah anak yang satu ke anak yang lain. Itu lebih ironis lagi.

Saya malah berpikir, nanti kalau sudah tua ya jadi traveler aja. Mengunjungi kota yang satu ke kota yang lain. Berduaan dengan suami dan ciuman di bawah matahari senja atau di bawah bintang-bintang malam...itu kan lebih indah. Ketimbang ngebayangin hari tua cuman tidur-tiduran atau baca koran sambil duduk depan pekarangan rumah. Iya kalau ada pekarangannya kalau ngga ada?

Ah jika saya tua nanti, saya mau menikmati hiduplah. Berpetualang kaya Frederiksen di film Up...siapa bilang tua itu menyeramkan? Itu adalah waktunya matahari memberikan kesan terindah pada dunia :D